Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

di sini koko

HomeWelcomeAug 29, 2005
Terima kasih telah berkunjung. Silakan simak isi dari web pribadi ini. Jika ada masukan silakan kirimkan lewat kolom komentar yang ada.

Kajian akademik terhadap karya sastra Indonesia dimulai sejak mulai dibukanya lembaga pendidikan seperti fakultas Sastra di UI berupa sekolah tinggi sastra dan budaya sejak tahun 1929, atau UGM dengan fakultas sastra, pedagogik, dan filsafatnya tahun 1950. Kita pun baru mengenal kritikus sastra seperti Teeuw, Jassin, Umar Junus, dan beberapa nama lain kurang dari 50 tahun ini. Lalu, bagaimana kehidupan kritik dan kajian sastra sebelumnya? Dan apa pentingnya membicarakan dan mengotak-ngotakkan kritikus dan apresiator sastra Indonesia?

Banyak media massa yang terbit pada masa penjajahan Belanda yang memuat berbagai apresiasi, analisis, komentar, resensi, dan bahkan polemik berkaitan dengan karya sastra yang diterbitkan. Kebanyakan kritik itu ditulis oleh para wartawan, penulis, dan masyarakat pembaca. Ambil contoh polemik terhadap karya sastra yang diterbitkan di sekitar Sumatera Barat dan Sumatera Utara pada akhir 1930-an. Banyak tulisan di surat kabar dan majalah yang membahas tentang keberadaan karya-karya itu. Terakhir kemudian diadakan konferensi roman di Medan pada akhir 1939.

Majalah-majalah dan surat kabar sudah memberikan ruang yang cukup luas untuk apresiasi dan polemik ini. Majalah Pujangga Baru dapat dijadikan contoh berlangsungnya perdebatan kritik seni dan budaya, termasuk di dalamnya sastra. Sutan Takdir Alisjahbana dapat dijadikan salah satu sosok yang ikut membangun wacana dalam bidang ini, selain nama-nama seperti Gayus Siagian dan Hamka.

Tentu saja, pengetahuan sastra dan kajian sastra para kritikus itu dilandasi pada pengetahuan, pengalaman, dan rasa yang ada pada mereka. Sebagian mungkin mendapatkan pengetahuan dari buku-buku, referensi agama, surat kabar, atau sumber lain. Yang pasti, belum ada sekolah atau universitas khusus yang mempelajari dan mengajarkan kajian sastra. Meski kajian kritik sastra di luar negeri sudah berlangsung beberapa dekade sebelumnya, tapi secara akademis belum terbentuk di Indonesia tersebab beberapa alasan akademik dan nonakademik.

Berlangsungnya kritik sastra Indonesia modern ini juga sebenarnya didukung dan berpusat pada keberadaan universitas yang membuka jurusan sastra dan ilmu budaya. Dengan landasan teoretis dan format berpikir yang terstruktur secara akademik, kajian kritik sastra dapat bertahan dari waktu ke waktu. Namun demikian, apresiasi para pengkaji sastra yang berasal dari luar wilayah akademik sastra turut memberikan sumbangan yang tidak kecil.

Media menjadi salah satu instrumen dalam membangun kajian sastra. Untuk kasus di Indonesia, surat kabar menjadi fondasinya. Banyak apresiasi dan kritik sastra berlangsung di surat kabar. Tidak sedikit yang memiliki pandangan tajam, kebaruan dalam melakukan kritik, dan juga ide-ide segar dalam perbincangan sastra. Tema-tema khusus dan menarik diolah menjadi esai yang sederhana dalam hal panjang tulisannya. Namun demikian, dari hal-hal yang terbatas kedalaman dan keluasan ruang itu, kajian dan apresiasi sastra Indonesia menjadi terjaga ritme dan perjalanannya.

Hal berbeda terjadi dalam majalah atau jurnal khusus sastra. Dengan tingkat akses yang terbatas, seleksi dan editing yang juga masih terbatas, oplah yang sedikit, menjadikan majalah dan jurnal khusus sastra belum sepopuler surat kabar. Tampaknya motivasi dalam publikasi ini juga berbeda, tersangkut masalah finansial dan juga motif publikasi, baik bagi pengelola media maupun penulisnya.

Masih berkaitan dengan media, tulisan-tulisan atau artikel yang membahas sastra Indonesia modern yang ditulis oleh para peneliti luar negeri dan dipublikasikan di berbagai jurnal internasional masih terus berlangsung. Beberapa jurnal di Inggris, Belanda, Perancis, Amerika, Malaysia, Singapura, dan Australia masih memuat kajian-kajian terhadap sastra Indonesia. Wacana yang berlangsung di berbagai jurnal internasional itu mungkin belum dijadikan referensi dan pendukung bagi wacana yang berlangsung di dalam negeri. Beberapa jurnal dan artikel itu bisa diunduh dengan bebas jika para pengkaji sastra ingin mendapatkannya.

Dalam praktiknya, perbedaan antara akademis dan nonakademis dalam pengkajian dan penelitian kritik sastra kita tak ada bedanya, atau dapat dikatakan kecil. Seperti disinggung oleh Damhuri Muhammad dalam kuliah publiknya di Yogyakarta pada Maret lalu, bertajuk ”Akademisi Sastra vs Esais Sastra Mencari Kutu dalam Seteru”. Bahkan, berbagai hasil apresiasi dan kajian sastra yang dilakukan oleh kalangan nonakademisi sastra telah memberikan pemahaman dan sudut pandang yang penting dalam kajian sastra secara keseluruhan.

Surat kabar dalam rubrik seni dan budaya juga diisi oleh berbagai kalangan. Memang tidak berbanding dengan isi jurnal yang didominasi oleh kalangan dari perguruan tinggi. Namun, untuk majalah dan berkala yang diterbitkan di luar lingkungan akademik, tetap menunjukkan kontribusi yang berimbang. Hal ini tidak terlepas dari ranah dan lingkup serta tujuan penerbitannya.

Tampaknya, sastra menjadi medan terbuka yang menarik banyak orang untuk terlibat di dalamnya. Hampir semua orang membaca karya sastra, baik dalam bentuk buku maupun yang terbit di surat kabar dan berbagai media lain. Semua orang berhak dan terbukti terlibat dalam proses produksi dan reproduksi sastra. Banyak komunitas sastra muncul. Pembaca baru dan lama saling merangsek masuk. Apresiasi pun hendaknya merangkum sifat keterbukaan ini.

Bila kemudian institusi akademis sastra dijadikan satu bagian penting dalam kajian dan kehidupan sastra, itu karena mereka hidup dan bekerja dalam sebuah lingkungan yang sebenarnya kemudian harus bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan dunia sastra lewat pengajaran, kajian, dan penelitiannya yang terwujud dalam berbagai tulisan. Bila tidak terjadi, tentu saja kalangan yang lain, yang tidak berlatar belakang akademi sastra dipersilakan untuk menutupinya. Seakan-akan ini menjadi medan perebutan makna, yang ternyata tidak ada otoritas mutlak di dalamnya.

Kita juga melihat, banyak redaktur sastra, sebagai bagian yang juga penting, yang tidak berlatar akademi sastra. Demikian juga dengan para penulis karya sastra. Lalu, kenapa harus ditunggu para akademis sastra untuk bangun dan sadar akan peran dan tanggung jawabnya? Ah, ternyata mereka, termasuk saya, belum betul-betul sadar dengan tugasnya.

Sudarmoko Dosen Sastra Indonesia FSUA, Padang, Dosen Tamu Jurusan Melayu-Indonesia HUFS, Yongin, Korea

Sumber: Kompas Minggu 20 Juni 2010.


ROMAN PERGAOELAN, PENULISAN SEJARAH, DAN KANONISASI SASTRA INDONESIA1
Oleh: Sudarmoko
Artikel di Jurnal Humaniora Volume XXI, No. 1/2009
Abstrak:

ABSTRACT The history of Indonesian Literature mainly based on canonical works established by scholars and critics. In this condition, literary works published by private and periphery publishers are ignored from the history of Indonesian literature. This paper discusses a private publisher, Penjiaran Ilmoe (1938-42), which published a series of literary works called Roman Pergaoelan in correlation with the writing of the history Indonesian literature. The discussion presented in this paper is based on the sociology of literature, exploring the extrinsic and intrinsic aspects of Roman Pergaoelan. The discussion is hoped to give a contribution in the development of writing the history of Indonesian literature by considering literary works published in out side centre of authority and categorized as popular or dime literature.

http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id/karyadetail.php?id=288

Kata Kunci:
Roman Pergaoelan, sejarah sastra, kanonisasi

Blog EntryMar 30, '09 10:49 PM
for everyone
Judul: Roman Pergaoelan
Penulis: Sudarmoko
Penerbit: Insist Press, Yogyakarta
Edisi: Pertama, 2008
Tebal: xvii + 189 halaman

Perkembangan karya sastra di negeri ini kerap diiringi dengan mencuatnya polemik yang tak jarang dipaksa-tuntaskan di meja pengadilan. Semasa pemerintahan Orde Baru, misalnya, sejarah mencatat sosok Pramoedya Ananta Toer (dan para seniman Lekra) yang dijebloskan ke dalam bui, walau tanpa proses peradilan.

Sebelumnya, cerita pendek Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin (Sudihartono) dan Robohnya Surau Kami ciptaan A.A. Navis pun memicu reaksi keras lantaran dianggap melecehkan agama. Dari situ, sebagian dari kita, yakni para generasi masa kini yang kian berjarak dari catatan kelam masa lampau, dihadapkan pada narasi “pertarungan sengit” antara sastra dan kekuasaan dan dogmatisme (agama dan adat).

Maka, tak mengherankan jika kemudian muncul dikotomi antara sastra “yang pusat” dan “yang pinggiran”. Dalam kajian pascakolonial, identifikasi sastra “yang pusat” itu lebih mewakili suara kolonial, sedangkan “yang pinggiran” cenderung memberikan kesan penentangan yang lantang.

Karya sastra (sekaligus para pengarang) dari kelompok kedua itulah yang selama ini (di)hilang(kan) dari catatan sejarah, atau setidaknya jarang ditautkan sebagai bagian utuh dari wacana kesusastraan Indonesia. Salah satunya sebagaimana pernah menimpa Roman Pergaoelan, suatu divisi (genre) fiksi yang dikelola penerbit Penjiaran Ilmoe di Bukittinggi.

Koko, demikian penulis buku Roman Pergaoelan biasa disapa, menurut pembacaan saya berhasil mengurai kelindan sosiohistoris penerbitan Roman Pergaoelan. Buku yang semula merupakan tesis Koko di Universiteit Leiden, Belanda, ini secara detail melakukan penelusuran sosiologis mengenai Bukittinggi, penerbit Penjiaran Ilmoe, dan yang lebih penting lagi: polemik yang sempat menerpa beberapa karya dan pengarang Roman Pergaoelan.

Bagi Koko, terbitnya karya-karya sastra Roman Pergaoelan mesti disadari tidak dapat dilepaskan dari pembangunan kawasan Bukittinggi pada masa penjajahan Belanda. Selain Padang, pada awal abad ke-20, Bukittinggi merupakan kota terpenting di dataran tinggi Minangkabau. “Penjajah Belanda mempersiapkan kota itu sebagai pusat pemerintahan mereka untuk wilayah Padang Barat,” demikian diungkapkan Koko (hlm. 21). Pada perkembangannya, Bukittinggi yang semula hanyalah lekukan perbukitan dan ngarai itu menjelma sebagai tanah kelahiran para intelektual dan pengarang di bawah naungan usaha penerbitan “daerah”, yakni Penjiaran Ilmoe, yang mulai berdiri pada 1939.

Embel-embel “daerah” di sini penting diberi ruang perbincangan khusus. Jauh pada periode sebelum kemerdekaan, barometer perjalanan sastra Indonesia selalu tertunjuk pada karya-karya terbitan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Patut diselidiki bahwa kedudukan kedua penerbitan itu adalah Batavia (Jakarta). Sehingga, menurut Koko, cara melihat dan menerima karya sastra yang berada di luar pusat (baca: di luar Jakarta) --termasuk terhadap karya-karya Roman Pergaoelan -—yakni dengan logika “pusat melihat pinggiran (periphery)”.

Terkait perdebatan itu, Umar Junus dengan jelas telah menunjukkan di mana kedudukan Roman Pergaoelan, sebagaimana dituliskannya pada halaman pengantar (ix-xiii). Di situ dia melihat bahwa Roman Pergaoelan juga dinilai (orang) sebagai karya pinggiran, diremehkan oleh orang yang hanya memandang karya yang dianggap pusat. “Karya yang pusat, tak pinggiran, terhasil di Jakarta, sedang yang pinggiran terhasil di daerah. Roman Pergaoelan terhasil di Bukittinggi -—hakikat ini meluas pada keseluruhan roman picisan yang umumnya terbit di daerah: Medan, Padang, Solo, dan Surabaya,” tinjaunya.

Dengan menguraikan polemik seputar Roman Pergaoelan dalam buku ini, Koko agaknya bermaksud menghadirkan suatu perimbangan wacana, dalam hal ini guna menyikapi dominasi wacana yang Balai Pustaka-centrist, yang telah sekian lama menjangkiti kajian kesusastraan kita.

Untuk itu, mula-mula Koko menyertakan sinopsis empat karya Roman Pergaoelan, yakni, Angkatan Baroe karya Hamka, Joerni-Joesri karya Merayu Sukma, Rahasia Pembongkaran karya Surapati, dan Kamang Affair karya Martha. Koko tak secara argumentatif menyebutkan mengapa ia memilih empat roman ini. Hanya, mungkin keempat roman ini dirasa cukup mewakili empat tema sentral Roman Pergaoelan: sejarah, politik, detektif, dan sosial.

Selain sebagai variasi tema, pembagian jenis ke dalam empat kelompok itu sekaligus menunjukkan pandangan ideologis editor Roman Pergaoelan.

Nah, usai membaca sinopsis sebagaimana tertuang dalam bagian "Roman Pergaoelan: Dunia Pergerakan dan Nasionalisme Menurut Anak Muda", Koko ternyata coba menyarikan dan menonjolkan kesan perlawanan dari keempat roman itu. Jadi, meski belum memeriksa keempat roman secara langsung, kita akan tetap merekam satu kesan bahwa keempatnya bercerita tentang pergerakan sosial politik yang dialami masing-masing tokoh -—sekalipun keempat judul itu sebenarnya berada pada kelompok yang berbeda.

“Mereka (baca: tokoh-tokoh dalam roman) menghadapi masalah yang dihadapi sebagian besar masyarakat pada masa itu, yaitu penjajahan dan pandangan yang tertanam dalam adat,” demikian menurut Koko.

Pada konteks ini, sepertinya kita mesti lebih meneguhkan satu pandangan bahwa beragam bentuk perlawanan terhadap kolonialisasi di Indonesia memang selalu dipercikkan mula-mula oleh kalangan terdidik. Para pengarang dan redaksi Roman Pergaoelan sendiri merupakan orang-orang terdidik yang banyak terlibat dalam organisasi politik maupun keagamaan.

Secara instrinsik, pandangan idoelogis itu dapat terbaca dari laporan konferensi roman yang digelar di Medan pada 1939, “Roman, berfaedah oentoek memperhaloes bahasa menagihkan oerang membatja, dan tendenz (isi)nja senantiasa bersifat PROPAGANDA, MEANDJOERKAN, DAN MENGKERITIK. Maka roman sematjam jang banjak terbit sekarang, besar faedahnja bagi masjarakat Indonesia jang masih dalam fase permoelaan ini.”

Berangkat dari ideologi perlawanan itulah polemik seputar Roman Pergaoelan bermula. Dalam Bab 4 yang berjudul “Polemik Roman Pergaoelan: Bertahan dalam Zaman yang Berubah”, secara panjang lebar Koko memaparkan polemik yang menimpa Hamka dengan Angkatan Baroe-nya dan Oestaz A. Ma’sjoek-nya Martha. Di titik ini, pembaca barangkali bakal tak mengerti mengapa Koko malah tak menyajikan sinopsis Oestaz A. Ma’sjoek. Walaupun secara pribadi kita dapat menelusuri sendiri roman tersebut, namun tetap terasa tak berimbang lantaran sebelumnya telah disertakan sinopsis Angkatan Baroe.

Martha, yang bernama asli Maisir Thaib, tampaknya merupakan penulis Roman Pergaoelan yang paling kontroversial. Tercatat ada tiga romannya yang melahirkan konflik. Yakni, Kesehatan Diri yang menimbulkan polemik dengan Dr. Aboe Hanifah, Oestaz A. Ma’sjoek yang memantik reaksi keras di kalangan ulama Perti, dan Leider Mr. Semangat yang dibredel polisi.

Dari polemik yang terakhir disebut itulah, Martha kemudian mesti rela diusung ke penjara Sukamiskin, Jawa Barat, selama setahun enam bulan. Ini pukulan terberat bagi Penjiaran Ilmoe sebagai penerbit karya-karya Roman Pergaoelan. Penjiaran Ilmoe, setelah sejak 1938 produktif menerbitkan Roman Pergaoelan, pada 1940 memutuskan untuk mendirikan penerbit “cadangan”, Bintang Kedjora, dengan divisi fiksi Perjoeangan Hidoep; suatu antisipasi jika Penjiaran Ilmoe digulung pemerintah kolonial.

Lagi-lagi, sosok Martha kembali mencuri perhatian saya usai memeriksa sebuah artikel yang ditulis Koko di sebuah harian lokal Padang, 9 November 2008. Sesuai pengakuan Koko, sebenarnya ada satu informasi yang belum diolah terkait sosok Martha. Yakni, sebuah biografi berjudul Pengalaman Seorang Perintis Kemerdekaan Generasi Terakhir Menempuh Tujuh Penjara. Biografi ini mengandung banyak informasi tekait pengalaman Martha sekolah di Normal Islam dan Islamic College, berkarier di dunia pendidikan di Kalimantan, aktivitas di PERMI, serta seputar proses kreatifnya mengarang.

Informasi itu, menurut Koko, tampaknya dapat digunakan untuk menelusuri kembali sejarah pendidikan di Padang dan dunia kemahasiswaan pada masa penjajahan.

Lepas dari itu semua, menurut saya, studi Koko ini nyaris tak membahas segi kebahasaan Roman Pergaoelan. Padahal, pemakaian bahasa Melayu

Rendah -—sebagaimana digunakan umumnya sastra pribumi (daerah) -—merupakan salah satu identitas kultural yang mengandung unsur-unsur ideologis dan estetis di dalamnya. Jadi, tak sekadar untuk menjangkau publik yang luas alias memenuhi tuntutan pasar.

Untungnya, hal itu masih dapat kita mafhumkan, karena toh Koko banyak menampilkan kutipan dari redaksi Roman Pergaoelan sekaligus publikasi penerbit atau resensi karya-karya Roman Pergaoelan. Boleh jadi, Koko memang tak perlu “mengatakan”, karena ia sejatinya telah “menunjukkan” bagaimana Roman Pergaoelan menggunakan ragam bahasa yang mudah diterima oleh khalaya pembacanya: “oleh masjarakat Indonesia jang masih dalam fase permoelaan ini”.

M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S., Pemimpin Redaksi BPPM Balairung UGM Yogyakarta

sumber: koran Tempo Minggu, 29 Maret 2009.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/03/29/Suplemen/krn.20090329.160858.id.html

Blog EntryDec 30, '08 8:31 AM
for everyone

Sastra Pinggiran

Judul : Roman Pergaoelan
Penulis : Sudarmoko
Penerbit : InsistPress
Cetakan : I, 2008
Tebal : 189 halaman

Situasi sosial menciptakan ruang yang cukup baik bagi perkembangan sastra dan kehidupan intelektual pada masanya. Selain disangkutkan pada peristiwa sosial, pembabakan sastra juga memperlihatkan pada kecenderungan pencapaian estetika tertentu, sesuai dengan semangat zamannya. Karena itu, kita mengenal periode Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ‘45, Angkatan ‘66 dsb. Inilah risiko yang harus dihadapi hingga saat ini, bagaimana sejarah perjalanan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya. Setidaknya, pandangan ini memperlihatkan hubungan yang erat antara sastra dan masyarakatnya.

Buku ini mencoba mengetengahkan karya sastra yang dianggap pinggiran, diremehkan karena ditulis oleh pengarang yang selama ini tidak dikenal dalam sejarah sastra Indonesia dan dimuat di media massa yang terbit di berbagai koran daerah sehingga luput dari kajian. Karya-karya tersebut dianggap picisan dan tak masuk dalam pembicaraan bahkan terlupakan. Tentu saja hal ini menyebabkan orang segan membacanya apalagi menilainya. Padahal beberapa karya awal sejumlah pengarang besar terbit di koran dan penerbit kecil dan tidak masuk dalam daftar riwayat kepengarangan, yang sebenarnya penting untuk dibicarakan dalam proses kreatif kepengarangan.

Ditulis berdasarkan penelitian. Kajian dalam buku ini memberikan fenomena lain sejarah sastra Indonesia yang cukup penting. Padahal tema-tema yang tampaknya remeh ini memiliki arti penting dalam sejarah sastra Indonesia (Nia Kurniawati, Pusat Data Redaksi)***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=49660

Resensi ini dimuat di koran Pikiran Rakyat


Blog EntryDec 14, '08 3:28 AM
for everyone

Padang, Kompas

Sebanyak 23 perguruan tinggi di Tanah Air, 7-13/8, mengikuti Pertemuan Teater Eksperimental Mahasiswa Nusantara (PTEMN) 2000, di Universitas Andalas, Padang. Sebanyak 15 grup teater mahasiswa akan menggelar pementasan.

"Dalam pertemuan ini, kita ingin melihat sejauh mana kehidupan dan pertumbuhan teater kampus belakangan ini," kata Sudarmoko, Ketua Panitia PTEMN 2000.

Dikatakan, dulunya teater kampus memiliki tempat dalam perbincangan dunia teater secara luas. Beberapa kelompok teater mahasiswa bahkan melakukan eksperimentasi, terlepas atau sengaja melepaskan diri dari dramaturgi atau aturan-aturan pentas yang dirasa kaku.

Bagaimana keberadaan teater kampus dewasa ini, itulah yang akan dipertunjukkan 15 grup teater-antara lain-dari Universitas Negeri Medan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Padangpanjang, Universitas Sriwijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Padjadjaran.

Melalui kegiatan ini, demikian Sudarmoko, akan ada silaturrahmi antarpekerja seni (teater) serta membuka dialog bagi wacana-wacana yang belum tergarap sebagai studi banding antarsesama teaterwan. Selain pementasan, PTEMN juga menggelar seminar dengan pembicara Wisran Hadi, Dindon WS (Teater Kubur), Ivan Adilla (Staf Pengajar Fakultas Sastra Universitas Andalas), dan Nasrul Azwar (Aliansi Komunitas Seni Indonesia). (nal)

Selasa, 8 Agustus 2000

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0008/08/dikbud/pert09.htm


Blog EntryNov 19, '08 10:21 AM
for everyone

Name: Sudarmoko
Study: Asian Studies
Age: 30
From: Yogyakarta, Indonesia

Have you had any negative interactions with Dutch people?

“No, not really. I did have to get used to the rhythm of living; people have pretty tight schedules here. The fact that before you can meet somebody you have to make an appointment and that you ask somebody “Do you have time?” were both new to me.” 

If you could study abroad again- would you choose Holland?

“I would prefer going to another country. I’ve been in Holland for 2 years now and I feel like I know this culture, now it’s time for a new one. I would like to go to Malasia or Australia for example.”

In what way can Holland keep functioning as a multi-cultural society?

“I’m not afraid that it will get out of hand in Holland- they have a good political system here. The human rights and the law system are both well organised, unlike Indonesia. The problems here are nothing compared to the problems we have in Indonesia.”

What misconception did you have of the Dutch?

“The weather- I really thought that it would be freezing, so I packed a lot of jackets, but I only needed one. I had some wrong ideas about the food too, I thought it would be totally different from Indonesia, but I can find a lot of things I like. I had potatoes only the first day.”

What question should be replaced?

“The third into: Did you have a specific reason for wanting to study in Holland?” (MM)

http://www.mareonline.nl/2005/27/englishpages.html


Blog EntryNov 9, '08 11:42 PM
for everyone

Minggu, 09/11/2008 23:10 WIB


padangmedia.com - PADANG-Penerbitan pinggiran dulunya dianggap sebagai pesaing bagi Balai Pustaka, karena penerbitan pinggiran dapat kebebasan dalam bersuara.

Hal ini terungkap dalam diskusi buku Roman Pergaoelan karya Sudarmoko dengan pembicara Drs.Heri Nur Hidayat,MS., dan Drs.Endut Aukhadiat,MS., dengan moderator Pramono,SS.,M.Si., pada rangkaian kegiatan hari terakhir Padang Book Fair di Bgd.Aziz Chan, Minggu (9/11).

Buku karya Sudarmoko ini merupakan salah satu karya yang diterbitkan penerbitan daerah di Bukittinggi waktu itu yang bernama Roman Pergaoelan. Dulu itu penerbit pinggiran tidak pernah dianggap oleh orang-orang yang mengagungkan sentralis, yang pada saat itu adalah masanya Balai Pustaka. Sangat kentara sekali perbandingan antara pusat dan daerah itu dilakukan.

Meski tidak pernah dianggap, para penerbit pinggiran tetap bertahan, dan bahkan terus berkembang. Hal ini dikarenakan, pada saat itu untuk dapat menerbitkan buku di BP sangatlah sulit dan banyak persyaratan yang mesti dilewati, antaranya, tulisan tidak memuat SARA, tidak bernuanasa politis, dan tidak melanggar kesusilaan. Karena sedemikian rumitnya persyaratan di BP jika dibandingkan dengan penerbitan pinggiran yang waktu itu ada di Bukittinggi, Medan, Solo, Surabaya dan lainnya, membuat mereka tidak harus mengikuti aturan kaku tersebut.

Di samping itu, jumlah eksemplar yang diterbitkan BP untuk daerah tidak pernah banyak, sehingga, buku-buku terbitan Roman Pergaoelan selalu ditunggu-tunggu.

"Jadi bukan penerbitan pinggiran yang mengancam penerbitan pusat, tapi sebaliknya, BP waktu itu merasa terancam akan hadirnya penerbitan pinggiran," ujar Heri.

Hal senada juga disampaikan Endut, ia menekankan betapa besarnya campur tangan pemerintah terhadap penerbitan waktu itu. Sehingga hal ini, menurutnya, membuat para penulis mencari jalan lain, salah satunya melalui penerbitan pinggiran tersebut. Salah satunya yang tetap bertahan, katanya, seperti AA Navis penulis daerah tapi mendunia.

"Walaupun perkembangan terhadap respon masyarakat sangat bagus, namun karya pinggiran tersebut tidak pernah didiskusikan para sastrawan, karena mereka tidak menganggap itu sebagai karya yang layak diperdebatkan," ujar Endut.

"Pada saat penerbitan pinggiran itu berjaya, sayangnya belum diikuti ideologi yang berkembang di masyarakat sekitar penulis itu sendiri. Hal ini membuat karyanya tidak begitu dalam," kata Heri.

Hendaknya, kata Heri, penulis juga menyampaikan idelogi yang berkembang di masyarakat. Sehingga hal itu bisa menambah kekuatan, lanjutnya, dan mampu menjadi perhatian para sastrawan. (romi)
dari sumber www.padangmedia.com

http://www.padangmedia.com/v2/?mod=berita&id=2034


Blog EntryNov 9, '08 12:37 AM
for everyone
Minggu, 09 November 2008
Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah surat elektronik dari Pak Umar Junus. Beliau menanyakan sesuatu yang tidak saya duga, meski saya telah memikirkannya sebelumnya, namun tidak sampai pada alasan yang ditanyakan. Kenapa saya memilih untuk menggunakan sebuah peta dalam buku saya, Roman Pergaoelan (Insist Press, Juli 2008), yang diambil dari sumber Belanda, dengan keterangan dalam bahasa Inggris dan Belanda.

Pak Umar menjelaskan sedikit latar belakang pertanyaan itu. Sekitar tahun 1985, beliau ke Padang dan mencari peta Sumatra Barat, namun tidak ada informasi yang menghantarkannya untuk mendapatkan peta itu. Pertanyaan itu bagi saya sangat penting, meski saya tidak serta merta ingin membuat peta atau mencarinya. Peta dalam pandangan saya, adalah sebuah sumber informasi yang menerangkan dimana posisi saya, atau posisi sebuah tempat di antara tempat yang lain. Mungkin bukan hanya peta lokasi, namun juga peta sejarah, politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Jika ada yang tidak termaktub dalam sebuah peta, biasanya kita, orang atau benda atau tempat, kemudian bertanya, apakah saya atau tempat itu tidak masuk hitungan? Kemudian siapa yang memetakan? Adakah alasan politis atau yang lain? Dan banyak pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan peta.

Jawaban saya atas pertanyaan Pak Umar Junus itu mungkin tidak menggembirakan. Soal peta Sumatra Barat memang menjadi perhatian saya, tidak hanya untuk buku saya itu, namun juga persoalan yang saya hadapi ketika di Padang juga, susah sekali mencari peta, dan jika ada di toko buku, harganya sangat mahal. Sementara untuk mendapatkan peta yang diperbaharui secara ajeg juga sedikit susah. Dan saya juga menyukai sebuah bidang ilmu sosial yang lain, urban symbolism, yang di dalamnya juga membicarakan banyak hal mengenai kota, fenomena kota, semiotika landmark dan tata ruang, mental map, dan sisi-sisi kehidupan kota lainnya.

Di Belanda, dan beberapa kota yang lain, peta sangat mudah didapatkan, seperti di halte (bahkan ada beberapa tempat di sejumlah negara yang menyediakan layanan peta ini dalam bentuk online di halte-halte), tempat wisata, dan sebagian besar gratis, bahkan di internet setiap ada alamat seperti universitas atau informasi konferensi selalu disediakan peta dan rute perjalanan. Saya juga mengoleksi beberapa peta beberapa kota yang saya kunjungi. Untuk peta di buku saya, saya mendapatkannya di lampiran buku Westenenk, dan saya sangat menyukai itu, sebuah peta yang dicetak oleh biro perjalanan di Batavia. Saya lalu membandingkannya dengan peta di buku Rusli Amran (Pemberontakan Pajak) dan yang lainnya, namun akhirnya saya memutuskan untuk memakai peta dalam buku Westenenk itu.

Selain karena bagus, relatif lengkap nama-nama daerahnya, juga karena buku itu secara khusus berbicara tentang Bukittinggi dan Sumatra Barat. Selain itu juga memberikan konteks dalam buku saya dan buku Westenenk, dalam periode pembicaraan yang relatif berdekatan. Selain itu, sebenarnya saya ingin memberikan tambahan informasi, atau sekadar memberitahu bahwa Bukittinggi menjadi tempat yang mengesankan bagi banyak orang, terutama Belanda pada waktu itu, dan perjalanan yang dicatat oleh Westenenk setidaknya membuktikan hal itu.

Saya tidak tahu apakah keinginan saya ini dapat diterima atau tidak, namun pada akhirnya beberapa pertimbangan ini yang kemudian membuat saya memutuskan untuk mengambil peta itu dari sumber Belanda. Saya pikir Belanda selain rajin membuat catatan juga rajin dan cermat membuat peta, mungkin untuk kepentingan penjajahan atau juga untuk ilmu pengetahuan. Sementara kita (maksud saya kondisi yang terjadi di Sumbar dan daerah lain) mengabaikan hal ini. Karena itu mungkin juga potensi kita tak berkembang, berjalan tak tentu arah, mengulang-ulang hal yang sama.

Pertanyaan Pak Umar Junus ini membuat saya berpikir, bahwa banyak orang yang ternyata mengalami hal yang sama dalam memandang sebuah fenomena. Peta ternyata menghantarkan orang untuk kembali, atau mencari sesuatu yang belum ditemukan. Dan dalam konteks sejarah intelektual dan sejarah sastra, ternyata banyak hal yang belum saya eksplorasi dalam buku Roman Pergaoelan itu. Demikian juga dengan keterbatasan penafsiran yang saya miliki, kaitan antara satu persoalan atau tempat dengan persoalan atau tempat yang lain.

Sejarah intelektual di Sumatra Barat tidak bisa dilepaskan dari dukungan penerbitan buku-buku yang menjadi sarana utama dalam penyediaan bahan bacaan. Setelah pendidikan diperkenalkan, baik itu pendidikan berbasis agama maupun yang berbasis sistem barat, para lulusan itu kemudian tetap membutuhkan bacaan. Bacaan yang ada dan diterima dari daerah lain belum memuaskan dahaga ilmu dan informasi. Demikian juga dengan karya-karya para intelektual dan sastrawan belum sepenuhnya bisa diakomodir oleh penerbit-penerbit di luar Sumatra. Karena itulah, penerbitan di Sumatra Barat dan daerah lain seperti Medan, mendapatkan sambutan yang luar biasa.

Salah satu informasi yang belum saya olah, karena keterbatasan waktu dan tenggat dari penerbit, adalah sebuah biografi yang tidak banyak dibicarakan dalam sastra atau sejarah Indonesia. Judulnya “Pengalaman Seorang Perintis Kemerdekaan Generasi Terakhir Menempuh Tujuh Penjara”. Pengarangnya Maisir Thaib, atau biasa juga dikenal sebagai Martha. Salah seorang guru, aktivis pendidikan, dan aktivis politik pada masa sebelum kemerdekaan. Salah satu romannya berjudul Kamang Affair saya analisis dengan sederhana dalam buku saya, Roman Pergaoelan.

Biografi ini berisi banyak informasi yang berguna dan penting. Tentang pengalamannya sekolah di Normal Islam dan Islamic College, berkarir di dunia pendidikan di Kalimantan, aktivitasnya di PERMI, dan juga dalam proses kreatifnya mengarang yang kemudian karena kasus salah satu romannya, Leider Mr. Semangat, membawa Martha digelandang dari Kalimantan ke Bukittinggi untuk diadili di Landrood, dan kemudian divonis setahun enam bulan di Sukamiskin, Bandung. Cerita mengenai sekolah Normal Islam dan Islamic College di Padang ini cukup banyak dibahas oleh Martha. Dan informasi ini tampaknya dapat digunakan untuk menelusuri kembali sejarah pendidikan di Padang, dan dunia mahasiswa pada masa penjajahan. Banyak juga cerita lucu yang ditulis oleh Martha dalam buku ini.

Dari buku ini saya juga mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan para mahasiswa pada masa penjajahan, kehidupan di penjara, tabiat para penjajah, baik Belanda maupun Jepang, dan masih banyak lagi. Ada satu bagian cerita di penjara Muaro Padang, yang menarik bagi saya, bahwa para tahanan harus berbaris dengan telanjang bulat, untuk bekerja dan makan, dan bagaimana ilustrasi ini memberikan sebuah gambaran kehidupan penjara pada masa itu yang sangat berat.

Perjumpaan Martha dengan banyak tokoh di penjara, sebagian besar adalah tahanan politik, seperti Dr. Haka (Ayah Buya Hamka) di penjara Bukittinggi, Nur Alamsyah, Samaun Bakri, dan tokoh-tokoh seperti Ilyas Yacub, dan sebagainya, terasa hadir dengan ilustrasi yang sederhana namun hidup. Martha dan nama-nama lain ini sebenarnya membuka peluang untuk kajian sejarah sosial dan pergerakan di Sumatra Barat. Tentu saja para ahli sejarah sedikit banyak telah merangkum nama dan peristiwa ini.

Namun masih dibutuhkan lagi kerja keras dalam memetakan dan menjelaskan bagaimana sejarah Sumatra Barat dalam seluruh sisinya. Pelurusan sejarah dan pencalonan pahlawan semakin marak. Namun masalahnya tidak begitu banyak informasi dari buku atau penelitian yang diupayakan untuk membuka informasi sejelas mungkin. Misalnya saja novel Bidadari Padri yang baru saja diterbitkan oleh Pustaka Republika belum banyak dibicarakan.

Di Sukamiskin Martha juga bertemu dengan Hasbullah Parinduri, atau Matu Mona, salah seorang penggiat sastra di Medan, yang menulis seri Rol Patjar Merah, sebuah kisah terkenal tentang Tan Malaka. Matu Mona dipenjara karena menerbitkan artikel Hadariah M dari Kalimantan berjudul “Suasana Kalimantan”. Dan ancaman untuk para penulis dan wartawan seperti Martha dan Matu Mona adalah artikel karet 153 bis, yang menjerat tulisan-tulisan yang dinilai provokatif dan subversif.

Kasus Matu Mona ini saya kira tidak kalah hebat dengan kasus Jassin yang juga mau melindungi pengarang Ki Panjikusmin. Dan ini juga menunjukkan dedikasi para penulis dan wartawan pada masa itu. Mungkin suatu saat akan ada yang mau meneliti dan membandingkan kasus Matu Mona dan Jassin ini dalam sejarah sastra kita.

Saya tidak tahu pasti apakah buku biografi ini banyak beredar atau tidak, tapi jarang saya baca dalam referensi sejarah atau sastra kita. Dicetak tahun 1982 oleh penerbit Syamsa di Padang, buku ini mungkin dapat menghangatkan pikiran dan imajinasi kita terhadap kehidupan aktivis dan pengarang pada suatu masa.   Tulisan ini saya maksudkan untuk membuka ruang kemungkinan lain yang belum sempat saya olah dalam buku Roman Pergaoelan. Tersebab keterbatasan dalam banyak hal sehingga buku tersebut belum sepenuhnya memberikan gambaran yang lengkap tentang sejarah sastra di Sumatra Barat.

Karena saya merasa ketika buku tersebut selesai, banyak hal yang belum masuk di dalamnya, dan membuat saya terus berpikir tentang banyak hal tersebut. Demikian juga dengan referensi yang baru belakangan saya peroleh, seperti buku Martha tersebut, yang memberikan informasi tambahan yang sangat penting. Namun tentu saja ini akan menjadi sebuah pengalaman penting dalam menulis dan melakukan penelitian tentang sejarah sastra di masa datang.

Sejarah sastra, baik di Indonesia secara umum dan Sumatra Barat secara khusus, memang dalam kenyataannya masih belum terpetakan dan tercatat dengan baik. Semoga saja tulisan ini dan buku Roman Pergaoelan tersebut dapat membuka dan menambah referensi dalam sejarah sastra kita, walau hanya sekelumit. (Sudarmoko, peneliti sastra Indonesia, pengajar di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unand, sedang menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Yongin, Korea.)

dimuat di Padang Ekspres, 9 November 2008.

http://www.padangekspres.co.id/content/view/22580/131/


Blog EntryOct 18, '08 10:48 AM
for everyone
Sejarah sastra Indonesia tampaknya semakin ramai dengan terbitnya buku-buku yang disusun oleh Muhidin M Dahlan dkk. Tentang peran dan karya-karya yang ditulis oleh Lekra. Sayang saya belum sempat membacanya, hanya mengetahui dari berbagai milis yang beredar. Beberapa waktu yang lalu seorang kawan juga dengan giat meneliti karya-karya yang termuat dalam sejumlah majalah sastra tahun 1950-1960-an. Sebuah usaha yang akan sangat menyemarakkan sejarah sastra kita.
Sejumlah informasi dari usaha itu tentu saja akan membuat kita semakin mendekatkan diri pada usaha untuk mengetahui bagaimana perkembangan sastra kita. Saya pikir jika ada publikasi semacam itu akan semakin kuatlah fondasi kita untuk berjalan ke depan. Pendekatan kronologik dan diakronik semacam ini tentu dapat menjadi mata rantai yang penting. Kita mungkin sudah cukup informasi pada perkembangan sastra tahun 1970-an, dengan berbagai referensi yang ada. Paling tidak sedikit banyak kita masih ingat akan beberapa fenomena: akar tradisi, profetik, Persada Studi Klub, Dua Puluh Sastrawan Bicara, dan sebagainya.
Dan informasi tahun 1950-1960 juga akan sedikit banyak dibicarakan, terutama dalam hubungannya dengan sejumlah lembaga kebudayaan, Lekra, Manikebu, Lesbumi, dan beberapa yang lain. Thesis Watson tentang Sosiologi Sastra Balai Pustaka, tulisan-tulisan Faruk, Wendy June Solomon, tentang karya-karya Cina Peranakan, dan lain-lain dapat membantu kita untuk membayangkan jauh ke belakang. Saya pikir ini akan memberikan sebuah perjalanan yang lain.
Demikian juga dengan kajian-kajian sastra yang belum banyak dibicarakan, sastra populer, komik, picisan, dan entah apa namanya yang lain, mungkin juga dapat memberikan pengaruh yang sangat baik. Saya melihat juga hal seperti ini sudah mulai hangat dibicarakan dan diteliti oleh sejumlah orang.
Semoga saja tidak berapa lama lagi akan muncul kegairahan dalam menyelidik dan membangun sejarah sastra Indonesia, yang tidak hanya mengulang-ulang kanon yang ada, mainstream yang dikukuhkan, dan karya-karya yang hanya itu ke itu saja diambil sebagai contoh. Jika usaha seperti ini menjadi perhatian kita, tentu akan menarik, setidaknya ini yang bisa saya bayangkan.
 

Blog EntryOct 9, '08 1:47 PM
for everyone

Sambil mengisi waktu di sini, saya membaca buku lama yang diperoleh dari Bung Fadlillah. Sebuah biografi yang tidak banyak dibicarakan dalam sastra atau sejarah Indonesia. Judulnya “Pengalaman Seorang Perintis Kemerdekaan Generasi Terakhir Menempuh Tujuh Penjara”. Pengarangnya Maisir Thaib, atau biasa juga dikenal Martha. Salah seorang guru, aktivis pendidikan, dan aktivis politik pada masa sebelum kemerdekaan. Salah satu romannya berjudul Kamang Affair saya analisis dengan sederhana dalam buku saya, Roman Pergaoelan.

Biografi ini berisi banyak informasi yang berguna dan penting. Tentang pengalamannya sekolah, berkarir di dunia pendidikan di Kalimantan, aktivitasnya di PERMI, dan juga dalam proses kreatifnya mengarang yang kemudian karena kasus salah satu romannya, Leider Mr. Semangat, membawa Martha digelandang dari Kalimantan ke Bukittinggi untuk diadili di Landrood, dan kemudian divonis setahun enam bulan di Sukamiskin, Bandung.

Dari buku ini saya juga mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan para mahasiswa pada masa penjajahan, kehidupan di penjara, tabiat para penjajah, baik Belanda maupun Jepang, dan masih banyak lagi. Ada satu bagian cerita di penjara Muaro Padang, yang menarik bagi saya, bahwa para tahanan harus berbaris dengan telanjang bulat, untuk bekerja dan makan, dan bagaimana ilustrasi ini memberikan sebuah gambaran kehidupan penjara pada masa itu yang sangat berat.

Perjumpaan Martha dengan banyak tokoh di penjara, sebagian besar adalah tahanan politik, seperti Dr. Haka (Ayah Buya Hamka) di penjara Bukittinggi, Nur Alamsyah, Samaun Bakri, dan tokoh-tokoh seperti Ilyas Yacub, dan sebagainya, terasa hadir dengan ilustrasi yang sederhana namun hidup.

Di Sukamiskin Martha juga bertemu dengan Hasbullah Parinduri, atau Matu Mona, salah seorang penggiat sastra di Medan, yang menulis Rol Patjar Merah, sebuah kisah terkenal tentang Tan Malaka. Matu Mona dipenjara karena menerbitkan artikel Hadariah M dari Kalimantan berjudul “Suasana Kalimantan”. Dan ancaman untuk para penulis dan wartawan seperti Martha dan Matu Mona adalah artikel karet 153 bis, yang menjerat tulisan-tulisan yang dinilai provokatif dan subversive.

Kasus Matu Mona ini saya kira tidak kalah hebat dengan kasus Jassin yang juga mau melindungi pengarang Ki Panjikusmin. Dan ini juga menunjukkan dedikasi para penulis dan wartawan pada masa itu. Mungkin suatu saat akan ada yang mau meneliti dan membandingkan kasus Matu Mona dan Jassin ini dalam sejarah sastra kita.

Saya tidak tahu pasti apakah buku biografi ini banyak beredar atau tidak, tapi jarang saya baca dalam referensi sejarah atau sastra kita. Dicetak tahun 1982 oleh penerbit Syamsa di Padang, buku ini mungkin dapat menghangatkan pikiran dan imajinasi kita terhadap kehidupan aktivis dan pengarang pada suatu masa.   


Photo AlbumRoman Pergaoelan, Insist Press, Juli 2008Sep 17, '08 11:51 AM
for everyone
Sudarmoko, buku pertama, kritik sastra, sejarah sastra, sejarah penerbitan, bukittinggi.

Blog EntrySep 17, '08 11:12 AM
for everyone
ARUS globalisasi yang terangkum dalam istilah global village, ternyata tidak hanya membawa manusia pada kemudahan dalam mengakses belahan dunia manapun, atau melakukan perpindahan fisik dan intelektual imajinatif kemanapun dia suka,namun juga membawa manusia pada pencarian identitas diri yang semakin intens.

Kebutuhan identifikasi diri ini menjadi begitu mendesak di tengah- tengah kondisi yang ditengarai sebagai pelucutan manusia dari sekat-sekat primordial. Inilah dilema kemanusiaan yang selalu muncul, bagaimanapun arus utama peradaban dijalankan. Hal ini juga terlihat dengan jelas dalam karya sastra.

Tulisan ini ingin melihat perkembangan dan perubahan pandangan yang terjadi dalam sebuah masyarakat Minangkabau terhadap berbagai fenomena psikologi sosial yang terjadi dalam masyarakat.Bagaimana karya sastra merepresentasikan berbagai pandangan dalam masyarakat,terutama dalam kaitannya dengan (auto)kritik terhadap berbagai perubahan.

Perbandingan antara pengarang yang berada di luar masyarakatnya, dengan berbagai persentuhan dengan dunia luar, dan pengarang yang memilih untuk menetap di tempat asalnya digunakan untuk mendapatkan kontras, yang diharapkan memberikan kesan lain dari usaha pembacaan yang dilakukan.

Beberapa aspek penting dalam menentukan fenomena manusia diaspora adalah kondisi psikologis yang dialami oleh perantau di daerahnya yang baru, identifikasi diri dalam masyarakat yang baru,dan juga harapan-harapan yang dapat membantu perantau untuk dapat bertahan di tanah yang baru,ikatan (solidaritas) baru di antara sesama perantau yang berasal dari daerah yang sama, seperti yang dijelaskan oleh James Clifford (1994), Homi Babha (1994), dan Paul Gilroy (1993).

Pelacakan fenomena ini dapat diamati lewat karya-karya sastra yang dihasilkan oleh perantau.Karya sastra merupakan dokumen penting dalam perjalanan psikologi masyarakat yang diwakili oleh pengarang.

Di antara sekian banyak pembicaraan tentang tema ini, berkaitan dengan tradisi khas Minangkabau dalam soal merantau, penelitian Suryadi (terbit dalam bentuk buku 2005) tentang syair Sunur secara khusus berbicara tentang teks yang ditulis oleh seorang perantau (Syekh Daud) yang memiliki motivasi agama dan adat sehingga kemudian jauh dari keluarga dan kampung halamannya, di mana ia membuang diri setelah dikalahkan dalam sebuah debat oleh aliran lain dalam Islam.

Dalam karya sastra Indonesia,terutama sejak tahun 1920-an hingga kini,persoalan manusia diaspora dari Minangkabau ini menjadi fenomena yang menarik. Salah satu alasannya adalah bahwa sebagian besar dari penulis dan pengarang sastra dalam kurun waktu ini adalah orang Minangkabau.Tema-tema yang dibicarakan dalam karya sastra mereka adalah representasi dari pergolakan batin dan realitas yang dihadapi,terutama ketika berhadapan dengan dunia baru yang dialami ketika merantau ke daerah lain.

Di satu sisi,ada semacam tuntutan budaya mereka untuk melakukan perantauan ketika sudah dewasa. Hal ini dilakukan untuk mendorong seseorang menjadi berguna, sukses, dan menemukan identitas dirinya.Pada sisi yang lain, kepergian seseorang untuk merantau adalah sebuah fase untuk memasuki dunia yang ’’sesungguhnya’’, setelah pada usia kanak-kanak hingga dewasa ditempa di lembaga pendidikan surau dan masyarakat sosialnya (baca: Mohammad Radjab (1950) dan Susan Rodgers (1995)).

Kehidupan di perantauan inilah yang penuh dengan gejolak dan tantangan sehingga si perantau akan menghadapi berbagai dilema dan juga situasisituasi psikologis yang membuatnya selalu berusaha untuk mengatasi persoalan yang ada,dan karena itu juga diyakini sebagai arena ujian untuk menjadi ‘orang’ dalam arti yang sesungguhnya. Pada novel Salah Asuhan,tokoh Hanafi bermimikri menjadi Indo untuk dapat memasuki komunitas baru dalam lingkungan Belanda. Ia bahkan menikahi Corrie yang merupakan anak (noni) Belanda.

Namun,di kalangan keluarga dan orang-orang kampungnya,Hanafi dianggap telah berubah dan menjadi kafir karena telah berganti nama dan melakukan pernikahan dengan orang luar yang lain agama, dan karenanya harus dibuang sepanjang adat. Padahal, dalam situasi yang dialaminya, Hanafi merasa bahwa ia memilih untuk melakukan itu semua karena ia telah berada pada situasi yang dianggapnya terbaik,untuk dapat melangkah menjadi warga dari masyarakat yang lebih baik, beradab, dan penuh dengan nilai-nilai modern, yang tidak didapatkannya apabila ia tetap berada dalam lingkungan dan identitas lamanya.

Novel Salah Asuhan ini menjadi contoh yang nyata tentang hilangnya identitas seseorang ketika berhadapan dengan lingkungan yang baru,yang menyedot banyak perhatian untuk mengambil sekian banyak pilihan dengan berbagai pertimbangan. Sikap yang diambil Hanafi secara sadar untuk berpindah identitas menunjukkan betapa kungkungan identitas primordial tidak lagi penting, sebab hidup di mana pun tidak menjadi soal ketika seseorang dapat menemukan harga diri dan arti hidup yang sesungguhnya.

Hanya saja, benturan-benturan identitas tetap saja terjadi ketika pilihan ini dihadapkan pada lingkungan terdekatnya,seperti keluarga dan kaum kerabat. Di dalam novel Sitti Nurbaya, kisah yang terjadi adalah juga pertikaian dalam diri Syamsul Bahri yang menempuh pendidikan Barat dan kemudian menjadi serdadu Belanda. Dengan kehidupan dan pengalaman baru yang didapatkannya selama dalam perantauan, dan juga status baru yang harus dijalaninya dalam profesinya, ia mengalami dilema, harus berhadapan dengan orang dan kampung halamannya sebagai pihak yang bertentangan.

Kondisi ini dapat dilihat sebagai sebuah keadaan yang mewakili gambaran bagi perantau yang ketika datang kembali ke kampung halaman dengan profesi dan predikat baru, yang tak jarang profesi dan predikatnya itu bertolak belakang dengan kondisi dan dinamika yang sedang terjadi. Fenomena yang lebih kemudian dapat dilihat dalam karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang-pengarang dari Minangkabau. Navis dalam Kemarau(1967) membenturkan fenomena yang terjadi ini.

Tokoh utama,Sutan Duano,lebih memilih kampung untuk membersihkan diri dari dunia rantau (kota) yang penuh dengan kemunafikan dan cara hidup yang tak sehat lagi. Ia malah berusaha untuk mencegah orang-orang pergi merantau dengan harapan akan mendapatkan penghidupan yang lebih baik,dibandingkan dengan kehidupan di desa. Tugas utama masyarakat adalah membangun desanya agar dapat hidup dengan baik.

Pada dasarnya,hidup di desa, kampung halaman,tidaklah berkekurangan. Hanya saja, etos dan èlan vital masyarakat harus lebih dihidupkan dengan cara melakukan terobosan-terobosan dalam mengolah sumber kehidupan. Hal inilah yang selama ini jarang sekali dilakukan.Banyak sekali sumber daya alam yang dibiarkan sehingga kehidupan masyarakat tidak lebih baik.

Masyarakat tidak tahu lagi bagaimana mengolah alam padahal mereka hidup di tengah- tengah kekayaan.Bak ayam mati di lumbung padi. Pada karya sastra yang hadir kemudian, pandangan dunia yang dibangun lewat tokoh-tokoh dalam karya sastra itu lebih terbuka dalam melihat gejala ini. Pertemuan atau kontak yang ada tidak lagi dimaknai dalam kontak fisik,seperti yang terjadi pada karya-karya awal sastra modern Indonesia,seperti Siti Nurbaya atau Salah Asuhan.

Dalam novel Wisran Hadi, Orang-orang Blanti (2000) berbicara secara spesifik tentang kehidupan lokal. Meski ada juga tokoh-tokoh dari luar yang dihadirkan,mereka malah digunakan untuk memperlihatkan pandangan masyarakat lokal tentang keberadaan orang-orang dari luar daerah yang datang ke Minangkabau.Wacana yang dibangun memperlihatkan bagaimana kehidupan riil dalam masyarakat Minangkabau dalam memandang kehidupan mereka yang juga heterogen.

Dari sudut pandang ini,terbuka juga kemungkinan lain dalam melihat masyarakat Minangkabau ketika mereka dihadapkan dengan pergaulan yang lebih luas, bagaimana mereka dapat membangun komunikasi dengan para perantau yang datang ke tempat mereka, dengan segala konflik yang terjadi. Sementara dalam novel Gus tf, Ular Keempat(2005),kehidupan kampung halaman dilihat sebagai sebuah romance, kenangan baik dan buruk.

Cara seperti ini dapat juga ditangkap dari novel otobiografi Muhammad Radjab di atas, Semasa Ketjil di Kampung.Kenangan ini membawa si tokoh melakukan pekerjaan karena ingatan (dendam) pada masa lalunya. Setidaknya, ada keinginan atau motif untuk membunuh kenangan masa lalu dengan melakukan berbagai hal yang dikira dapat menghapusnya.(*)

Sudarmoko
Staf pengajar Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, alumnus Leiden University

Pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, Minggu, 26 Agustus 2007


Blog EntrySep 17, '08 11:08 AM
for everyone
Minggu, 9 Maret 2008 | 09:07 WIB

Sudarmoko

Sejarah sastra Indonesia, seperti halnya sejarah sosial lainnya, masih belum memperlihatkan kondisi yang sebenarnya. Bangunan sejarah sastra Indonesia rumpang di sejumlah bagian. Ini diakibatkan oleh studi sastra yang berpedoman pada kanonisasi dan kategorisasi sastra, pengukuhan periodeisasi yang telah ditulis sebelumnya, di samping juga karena keterbatasan sumber data dan kritikus yang ada.

Penulisan sejarah sastra memunculkan sejumlah nama dan karya yang dianggap mewakili periode tertentu dalam pembabakan yang diciptakan. Selain disangkutkan pada peristiwa sosial, pembabakan ini juga memperlihatkan pada kecenderungan capaian estetika tertentu, sesuai dengan semangat zamannya. Karena itu, kita mengenal periode Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan sebagainya. Inilah risiko yang harus dijumpai hingga saat ini, bagaimana sejarah perjalanan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya. Setidaknya, pandangan ini memperlihatkan hubungan yang erat antara sastra dan masyarakatnya.

Di luar kanonisasi dan kategorisasi yang dibentuk, sejumlah genre sastra kita hilang atau tidak banyak dibicarakan. Karya-karya yang ada di media massa, terutama yang terbit di berbagai koran daerah, luput dari kajian. Karya-karya yang dianggap picisan atau terbitan penerbit partikelir pribumi juga tak masuk dalam pembicaraan. Bahkan, beberapa karya awal sejumlah pengarang besar yang terbit di koran dan penerbit kecil tak masuk dalam daftar riwayat kepengarangan, yang sebenarnya penting untuk dibicarakan dalam proses kreatif kepengarangan. Bahkan sejumlah karya tidak dapat ditemukan lagi, baik akibat sensor dan pembredelan pada masa penjajahan dan setelah kemerdekaan, maupun karena telah hancur karena umurnya yang sudah tua.

Namun, kajian sejarah sastra Indonesia, terutama yang membicarakan karya-karya yang tidak masuk dalam kanonisasi ini, telah dilakukan oleh sejumlah ahli sastra dan hasilnya dapat kita temukan. Wendy June Solomon (1993) dan Mikihiro Moriyama (2005), misalnya, dengan cukup komprehensif membahas karya-karya sastra yang terbit di Jawa Barat dan sejarah penerbitannya. Demikian juga dengan George Quinn (1992) yang meneliti novel-novel Jawa. Ada juga Sitti Faizah Rivai (1963) yang pernah menulis skripsi di Universitas Indonesia tentang roman-roman picisan pada zaman penjajahan. Kajian yang menarik juga muncul di sejumlah artikel dalam buku Clearing a Space yang dieditori oleh Keith Foulcher dan Tony Day (2006). Doris Jedamski (2007) juga melakukan penelitian terhadap polemik karya sastra yang terbit di Medan pada masa penjajahan.

Jika kita baca sejumlah penelitian yang disebutkan di atas, yang sebagian besar dilakukan oleh para peneliti dari luar negeri, ternyata nama dan karya di luar kanonisasi dan kategori yang dibentuk dalam kajian sejarah sastra Indonesia cukup menarik untuk dibahas. Sejumlah hal menarik muncul. Tentu saja dengan sudut pandang kajian yang menawan pula. Paling tidak, kita bisa membaca kajian dengan obyek yang masuk dalam kanonisasi yang termaktub dalam tesis Watson (1972) tentang sosiologi karya-karya terbitan Balai Pustaka yang cukup luas. Atau bagaimana pengaruh pengarang Minangkabau dalam karya-karya Balai Pustaka yang dibahas oleh Freidus (1977). Perspektif yang digunakan dalam kajian-kajian mereka cukup jernih, dalam artian bagaimana mereka memperlakukan obyek kajiannya tanpa tendensi pengaruh kanonisasi dan kategorisasi yang dibentuk.

Inilah yang menjadi tantangan lain dalam penulisan dan kajian sejarah sastra kita. Tanpa harus mempertahankan dan melanjutkan tradisi kanonisasi, yang hanya akan berakibat pada pembenaran dan penguatan kesimpulan yang ada sebelumnya. Penulisan sejarah sastra kita dapat disemarakkan oleh berbagai revisi atas kesimpulan terdahulu. Dan hal ini tampaknya memerlukan pengkaji baru, jika tidak ada perubahan sikap keterbukaan para peneliti yang ada, yang berbicara atas penemuan mereka, bukan pada upaya mempertahankan pernyataan-pernyataan yang telah mereka buat.

Modal usaha seperti ini sebenarnya sudah tersedia, dengan memanfaatkan berbagai institusi yang ada, seperti fakultas sastra, balai bahasa, dan perpustakaan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Apalagi sudah banyak kajian awal yang dilakukan oleh para peneliti sastra Indonesia. Beberapa terbitan mengenai sastra di berbagai daerah, sepengetahuan saya, hanya berupa kompilasi sastra, baik kajian maupun karya sastra, yang belum mencerminkan kondisi sesungguhnya dari dinamika sastra Indonesia.

Kontinuitas sastra Indonesia

Sastra Indonesia, dengan penambahan kata ”modern”, sering kali menjadi awal perdebatan ketika berbicara tentang sejarah sastra Indonesia. Pengaruh bentuk dan gaya sastra asing (baca: Barat) dijadikan patokan untuk menyebut sastra Indonesia yang modern. Dalam nuansa dan konteks seperti ini, kesinambungan sastra Indonesia yang modern dengan tradisi sastra yang sudah ada, yang menjadi latar estetik para pengarang, menjadi kabur. Pergaulan pengarang dengan budayanya, dengan tradisi estetik yang diterima secara budaya, sekadar menjadi warna atau setting dalam proses kreatif yang dijalaninya.

Pada masa transisi dari sastra lama ke sastra modern, jika itu ada, dibatasi dan ditandai pada penghormatan akan nama pengarang yang sebelumnya anonim, media publikasi, bentuk pendidikan dan pengetahuan barat, dan pengaruh karya sastra barat. Sebagai akibat, sastra lama kemudian dijadikan artifak, yang dikaji melalui filologi atau arkeologi. Para peneliti sastra, khususnya sejarah sastra, menjadi asing dengan tradisi yang dimiliki oleh sejarah panjang sastra di Indonesia, atau nusantara ini. Hal yang lazim adalah para peneliti sastra menggunakan hasil kajian yang terakhir itu untuk menunjang kerja mereka. Kita tidak pernah betul-betul bersinggungan langsung dengan karya-karya lama kita.

Sementara waktu terus berjalan, jarak ketertinggalan kita dengan persoalan yang serius ini mungkin semakin panjang. Karya sastra Indonesia yang modern dan kontemporer terus lahir, yang belum sepenuhnya mampu dibicarakan. Di lain sisi, sastra lama kita juga semakin jauh dan asing. Kegundahan yang menyelimuti kajian sastra Indonesia, terutama para penelitinya, tampaknya tergambar dalam situasi seperti ini.

Kecenderungan penulisan

Penulisan sejarah sastra Indonesia telah banyak dilakukan peneliti sastra. Ajip Rosidi (1983. cet.3), Jacob Sumardjo (2004, 1999), Yudiono KS (2007), Korrie Layun Rampan (1983, 1986), Agus R Sarjono (2001), HB Jassin (tentu saja dalam berbagai buku yang ditulis atau dieditorinya), dan sebagainya. Namun, dengan menekankan pada periodisasi berdasarkan konteks sosial, seperti yang sudah dikenal secara luas, masih meninggalkan sejumlah fakta yang cukup penting.

Sastra dianggap penting ketika ia berkorelasi dengan situasi di luar dirinya, atau keterlibatan pengarang dalam aktivitas sosial. Aspek sosiologi dari sastra mau tak mau dijadikan dasar pijakan dalam penulisan sejarah sastra. Beban sosial ini dengan segera menjadi dasar kriteria dalam menentukan kualitas karya, dan menempatkannya dalam deretan penting karya sastra yang tercatat dalam sejarahnya. Capaian bentuk estetika karya, karenanya, menjadi pertimbangan berikutnya.

Pertimbangan sosiologi ini memang menjadi salah satu indikasi yang menonjol, karena peneliti sastra dapat merujuknya dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. Namun kemudahan ini tentu saja bukan menjadi alasan utama ketika kita harus berbicara tentang sastra, termasuk dalam penulisan sejarah sastra, dengan perangkat estetika yang tidak melulu berbicara tentang aspek sosialnya.

Sudarmoko Peneliti Sastra Indonesia, Tinggal di Padang

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/03/09/09074212


Blog EntrySep 17, '08 11:05 AM
for everyone
Minggu, 29 Juni 2008 | 01:06 WIB

Sudarmoko

Pembicaraan mengenai regionalisme sastra dapat ditemui secara implisit dalam sejumlah kritik sastra Indonesia. Nilai positif dari pembicaraan ini memberikan kemungkinan baru dalam melakukan kajian terhadap sastra Indonesia. Untuk beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan, baik secara tematik maupun geografis, sebenarnya tema seperti ini menjadi lokus-lokus yang dapat dirangkai menjadi kajian yang komprehensif atau setidaknya sebagian besar peluang penelitian atau penulisan kritik sastra Indonesia dapat diidentifikasi.

Para sastrawan Indonesia telah melampaui batasan-batasan latar belakang budaya dan geografis. Mereka berkarya dalam sebuah ranah yang bernama Indonesia, baik dalam artian bahasa, pemikiran, maupun semangat penjelajahan sumber penciptaannya. Meski demikian, memang dapat ditemui sejumlah kesan dan ciri budaya yang melekat dan hingga saat ini dijadikan acuan dalam penulisan sejumlah leksikon sastra Indonesia.

Beberapa buku leksikon dan bibliografi memuat sejumlah sastrawan yang hidup dan berkarya di wilayah tertentu, seperti di Jabodetabek, Kalimantan, atau Sumatera Barat. Meski demikian, data base yang dimiliki masing-masing daerah belum selengkap yang diharapkan banyak pihak. Karya-karya yang pernah dihasilkan banyak yang belum didata. Persoalan yang juga menjadi kendala adalah bagaimana kita dapat mengakses informasi dan menemukan karya-karya yang pernah dihasilkan dalam perjalanan sastra Indonesia. Saya menduga banyak kritikus yang menyimpan karya-karya para penulis sastra, baik dari penelusuran di berbagai tempat, kiriman penerbit, maupun hadiah dari para penulisnya sendiri.

Selain itu juga masih ada sejumlah perpustakaan, koleksi, dan taman bacaan yang menyimpan karya-karya sastra. Hanya saja, sistem kataloginya masih sederhana, belum bisa diakses secara umum, kecuali beberapa perpustakaan yang sudah melakukan perbaikan dalam sistem katalogi ini. Seandainya hal ini dapat diperbaiki, tentu akan memberikan angin segar dalam kajian sastra Indonesia.

Regionalisasi dan pusat penelitian

Mungkin kita dapat melakukan perbandingan dengan Perpustakaan KITLV Leiden yang menjadi rujukan penting dalam kajian Indonesia, termasuk sastranya. Selain program penelitian, penerbitan, dan seminar, perpustakaan ini menyediakan layanan perpustakaan yang lebih dari cukup. Dengan demikian, ia menjadi salah satu lokus penting bagi peminat kajian sastra Indonesia. Nilai pentingnya tak hanya dinikmati para pengkaji, tetapi juga para pengelolanya.

Berkaitan dengan hal ini, kajian yang dilakukan para peneliti kita masih terbatas dalam pergerakannya, baik karena masalah finansial dalam melakukan penelitian maupun karena alasan lain. Mereka lebih banyak melakukan penelitian dalam lingkung akademis dan wilayahnya masing-masing. Dilihat dari obyek kajian, memang teks karya sastra dapat dilepaskan dari batasan-batasan geografis. Namun, dalam kebutuhan yang lebih dari itu, seperti kondisi sosiologis dan perkembangan budaya, diperlukan adanya keleluasaan dalam penjelajahan yang lebih luas dan makro.

Dari kondisi seperti inilah diperlukan semacam regionalisasi dalam melakukan kajian sastra Indonesia, dalam kerangka yang lebih luas untuk kajian sastra Indonesia. Para pengkaji sastra Indonesia dapat memfokuskan diri menggali kekayaan sastra Indonesia dalam sebuah lingkungan tertentu, dengan tidak melupakan konstelasi sastra Indonesia secara umum. Selain kajian, pendokumentasian karya sastra dan sumber-sumber referensi penting dalam sebuah wilayah juga menjadi agenda penting, terutama dalam berbagi informasi mengenai referensi apa saja yang tersedia dan bagaimana melengkapi kekurangan yang ada.

Rumah Puisi Taufiq Ismail

Taufiq Ismail berencana untuk membangun Rumah Puisi di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat. Dalam launching Rumah Puisi yang dilakukan berkaitan dengan acara 55 tahun Taufiq Ismail dalam sastra Indonesia, dugaan saya ada kaitan Rumah Puisi dengan program SBSB Horison, keberadaan majalah Horison, dan pilihan pembangunan ini yang berada di luar Jakarta serta penempatannya yang bukan di Padang sebagai pusat Sumatera Barat, tetapi di tempat yang relatif berada di tengah-tengah Sumatera Barat sehingga memberikan akses yang lebih bagi seluruh masyarakat di Sumatera Barat.

Di luar rencana dan inisiatif pilihan tempat, sebenarnya di Sumatera Barat ada beberapa lokasi yang sudah tersedia dan memadai untuk dijadikan kantong sastra ini. Sastrawan Indonesia tentu sudah mengenal INS Kayutanam yang pernah digunakan sebagai tempat Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997. Selain itu juga ada Genta Budaya dan Taman Budaya di Kota Padang atau Perpustakaan Bung Hatta di Bukittinggi yang diobsesikan menjadi salah satu pusat intelektual di Sumatera Barat.

Sampai saat ini saya hanya membayangkan apakah nanti Rumah Puisi ini akan menjadi sebuah tempat yang hidup dengan berbagai aktivitas dan program sastra dan intelektualnya, tempat sastrawan tinggal beberapa bulan dan menulis karya, melakukan dialog dan seminar, tempat sastrawan dan peneliti sastra membaca buku-buku koleksi Taufiq Ismail yang akan dipindahkan ke sana, tempat kunjungan para guru dan siswa, sastrawan dan artis yang meramaikan SBSB akan datang dan menulis atau berlatih kesenian, para sastrawan mempertunjukkan karya, dan sebagainya.

Jika dulu STA menghibahkan uang asuransi kecelakaan pesawatnya untuk membangun Toyabungkah, maka sekarang Taufiq Ismail menghibahkan uang dari Habibie Award untuk Rumah Puisi ini. Apakah dari rencana ini kemudian juga akan membawa resonansi lain dalam kajian sastra Indonesia, dengan mengalihkan pandangan ke berbagai daerah lain, mendalami fenomena sastra di daerah, mengapresiasi kehidupan sastra di daerah, dan menjadikan daerah sebagai basis dalam kajian yang akan dilakukan. Regionalisasi sastra Indonesia, karena itu, menjadi sebuah wacana yang perlu diperhatikan.

Sudarmoko Peneliti di Pusat Penelitian Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/29/01064327/regionalisme.sastra.indonesia


Blog EntrySep 16, '08 2:26 AM
for everyone

Apakah yang membedakan bahasa dalam fungsinya sebagai alat tutur dalam komunikasi sehari-hari dengan bahasa dalam karya sastra? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dibicarakan dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa dalam karya-karya sastra Indonesia, terutama karya-karya kontemporer. Bahasa yang selalu berkembang dan dinamis, baik dalam struktur gramatika maupun penyerapan dan pengayaannya, dalam karya sastra Indonesia menunjukkan juga bagaimana fungsi bahasa Indonesia dalam masyarakatnya. Dengan kata lain, bangunan bahasa Indonesia selalu merefleksikan kondisi masyarakatnya.

Kekuatan bahasa sastrawi dalam karya sastra muncul dari tiga buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Ketiga buku ini ditulis oleh tiga pengarang yang dapat dikatakan telah memiliki kekhasan tersendiri dalam karya-karya yang dihasilkannya. Masing-masing buku itu adalah Perantau, kumpulan cerpen Gus tf Sakai, Linguae kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma. Dan yang terakhir adalah kumpulan puisi Kepada Cium karya Joko Pinurbo.

Bahasa di tangan ketiga pengarang ini memperoleh pembaruan dan penyegaran. Bahasa bukan hanya sebuah alat komunikasi yang menghantarkan pesan dari satu penutur ke penutur yang lain, atau dari penulis ke pembaca. Bahasa menjadi tantangan dinamik yang memberikan nuansa estetika bahasa. Keterampilan menggunakan bahasa ini menciptakan bayangan yang lebih jauh dari sekadar bangunan makna dan struktur bahasa. Bayangan yang lebih jauh ini memungkinkan penciptaan imej yang dihasilkan dari konstruksi bahasa, hasil dialog antara teks dan pembaca.

Ketiga buku yang dibicarakan di sini saya pikir telah membuka peluang penciptaan imej itu, atau dalam istilah yang lebih dikenal dalam dunia film sebagai mise en scene. Namun saya ingin menggunakan istilah ini sebagai sebuah interaksi yang terjadi dalam diri pembaca ketika menghadapi bacaannya. Pembaca dapat melihat (membayangkan) bentuk visual dari teks yang tengah dibacanya, situasi setting, blocking, gesture, kostum, suasana, hingga pada bangunan cerita secara keseluruhan. Unsur visual dari ketiga buku ini sangat mencolok, dan menjadi sebuah daya tarik yang patut untuk diperbincangkan.

Pada buku Perantau, misalnya, cerpen-cerpen Gus tf sebagian besar memiliki aspek visual. Hal ini didukung oleh gaya Gus tf yang secara mendetail menghadirkan gambaran psikologis tokoh yang ada dalam cerita. Dengan berbagai deskripsi, baik dalam dialog maupun cerita, psikologi tokoh dibangun dengan cara menghadirkan masalah, dan terutama sekali Gus tf melihatnya melalui pandangan dalam diri tokoh. Sementara itu, berbagai keutuhan bangunan tokoh ini juga dibangun lewat dialog tak langsung dalam diri tokoh. Ia menghadirkan berbagai kemungkinan lain dengan cara meletakkan kemungkinan lain itu dalam tanda kurung, terutama dalam dialog batin tokoh. Sesuatu yang mendukung karakter tokoh yang lebih humanistik.

Aspek visual dari cerpen-cerpen ini juga didukung oleh pilihan bahasa yang puitik sehingga nuansa cerita terbangun dengan baik. Gus tf tidak begitu saja menggunakan bahasa, namun juga melakukan pemilihan dan kadang pencarian dari berbagai sumber atau kamus. Pada cerpen “Kami Lepas Anak Kami” misalnya, cerita dalam cerpen ini seperti terlihat dengan jelas alur dan detil plotnya, bagai sebuah film. Seorang ayah yang memperhatikan keseharian anaknya, yang masih berada di SD, yang robotik, hidup yang terjadwal dan rutin, sehingga ia kemudian memutuskan untuk membuntuti anaknya hingga ke sekolah, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun di sekolah anaknya itu, dimana ia mencari sang kepala sekolah, ternyata ia hanya mendapati ruang kosong hingga ke lantai tertinggi, di ujung bangunan sekolah yang menawarkan pemandangan lain. Pemandangan itu adalah bagian lain dari masyarakatnya, dimana setiap ayah juga melepas anak-anak mereka ke sekolah, anak-anak yang juga robotik dan mekanistik.

Cerpen ini, seperti juga halnya dengan cerpen-cerpen lain dalam buku ini, membangun karakter tokoh yang hidup, lengkap dengan bangunan sosiologis dan psikologisnya, ditambah dengan konflik yang dihadapinya. Inilah salah satu yang membuat gambaran visual atas cerita dan tokoh-tokohnya menjadi hidup. Seperti halnya cerpen “Kota Tiga Kota”, yang menggambarkan sebuah suasana, nuansa, landscape, dan sejarah dari sebuah kota. Gus tf tidak hanya mengeksplorasi suasana kekinian sebuah kota, namun dari sebuah penanda, sebuah suara erangan yang selalu terdengar, ia menarik jauh ke belakang jejak suara itu. Sebuah peristiwa tragis yang menghantui perjalanan panjang sebuah kota.

Di samping itu, usaha serupa yang ia tampilkan dalam puisi-puisinya, adalah jalinan antar paragraf yang rapat. Ia menggantung kalimat di akhir paragraf untuk diulang dalam kalimat awal paragraf berikutnya, meski latar atau tokoh yang ada dalam paragraf berikutnya berlainan. Kepaduan ini menciptakan nafas yang erat dan jalinan cerita yang merenggut perhatian pembaca untuk tetap berada dalam suasana yang dibangun dalam cerpen-cerpennya. Usaha ini juga tampak dilakukan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam kebanyakan cerpennya. Tidak mudah memang untuk mengalirkan cerita dalam bahasa yang jalin menjalin antar paragraf seperti yang dilakukan oleh dua pengarang kuat dalam sastra Indonesia ini.

Buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, Linguae, menghadirkan gambaran visual yang terjalin berkat adanya bangunan sosiologis dan psikologis. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, dan juga cerpen-cerpennya yang lain, memperlihatkan bagaimana cerita menawarkan peluang untuk dimasuki oleh pembacanya. Seno memberikan tawaran itu lewat gaya berbahasanya yang menawan, sehingga pembaca akan tetap berada dalam cerita, mengikuti alur dan kejutan-kejutan yang diciptakannya.

Ilustrasi dan setting, tempat dan bangunan psikologi tokoh, pengambilan sudut berceritanya, semua itu membuat cerpen-cerpen Seno memiliki kekhasan tersendiri. Sebagian cerpennya bahkan membutuhkan energi untuk dibaca. Masalah semantik dan gramatika berbahasanya kadang keluar dari aturan yang baku. Kadang harus menahan nafas untuk menyelesaikan satu kalimat. Satu paragraf. Namun demikian, dalam kesesakan inilah pembaca akan menemukan sebuah suasana. Sesuatu yang tampaknya disadari dan dijadikan peluang oleh Seno.

Dalam cerpen “Senja di Kaca Spion”, misalnya, cerita dihadirkan dengan mengalir dan pada beberapa bagian menderu mengakibatkan cecaran pada pembaca. Seseorang yang meluncur di jalan tol, dengan kecepatan tinggi, namun pada ketiga kaca spion mobilnya ia melihat segala sesuatunya tertinggal. Ia ngebut ke depan, namun yang lain tertinggal ke belakang. Bagaimana ia akan terus maju, sambil menyaksikan proses kemunduran yang terjadi di sekitarnya.  

Di tangan Joko Pinurbo, bahasa kembali menemukan fungsinya sebagai medium yang mengantarkan cerita dengan kesederhaan yang sering dilupakan, seperti yang hadir dalam puisi-puisi yang terhimpun dalam Kepada Cium. Bahasa dipergunakan secara personal, sesuatu yang merepresentasikan identitas dan karenanya menjadi fungsional. Puisi-puisi Joko Pinurbo mengubah mainstream dan pandangan bahwa bahasa sastrawi adalah bahasa yang dicari-cari, dihadirkan, dan karenanya tidak menyatu dan mendukung sublimitas karya.

Di satu sisi, Joko berhadapan dengan kesadaran akan tema yang digarapnya, eksplorasi yang dilakukan terus menerus hingga memungkinkan pencarian dan penemuan yang di luar dugaan. Di sisi yang lain, Joko juga menemukan bentuk dan medium ungkap yang memungkinkan pencarian itu berjalan dengan baik. Ada alat yang dijadikan pengikat antara proses eksplorasi dan bentuk ungkap yang digunakan.

Bahasa dalam Karya Sastra Indonesia

Bahasa menjadi sebuah kekuatan yang menarik dalam karya sastra. Kekayaan dan penggunaan bahasa sastrawan Indonesia, bila kita lihat dalam perkembangan dan perjalanan sastra Indonesia, menunjukkan sebuah keterkaitan antara sastrawan dan kultur yang dimilikinya. Selain sebagai sesuatu yang diterima, bahasa juga merupakan sesuatu yang dapat diperkaya dan dipelajari. Bahasa Indonesia, sebagai contoh, menjadi bahasa ibu dari sebagian besar masyarakat kita. Bahasa daerah tidak lagi digunakan secara merata oleh masyarakat. Karena itu, pilihan untuk menggunakan bahasa Indonesia menjadi sebuah pilihan yang logis karena berkaitan dengan masalah pendidikan, ekonomi, sosial, dan terutama sekali keinginan masyarakat untuk mempersiapkan generasi berikutnya.

Karena kondisi seperti ini, maka bahasa Indonesia mengambil alih peran bahasa sebagai alat ekspresi estetika. Hal ini dapat dilihat pada penggunaan medium bahasa Indonesia dalam karya sastra. Bahasa Indonesia secara fasih digunakan oleh para pengarang untuk menceritakan kisah yang dibuatnya. Meski ada keraguan atau kecemasan bahasa Indonesia mulai mengambil alih bahasa ibu (bahasa daerah) dan mengakibatkan kerontokan budaya dan filsafat yang ada dalam masing-masing kelompok masyarakat, namun ternyata bahasa Indonesia, dengan berbagai medium penyebarannya, faktanya telah mengukuhkan dirinya.

Sekali lagi, kekayaan dan kemampuan bahasa Indonesia untuk mengartikulasikan estetika dalam sastra hanyalah sebuah kemungkinan yang hanya dapat diwujudkan oleh pengarang yang juga memiliki kesadaran, kekayaan, dan kemampuan untuk mempergunakannya. Strategi dan manipulasi bahasa dalam penciptaan karya sastra, untuk menemukan efek estetika, dalam keadaan tertentu telah digeser oleh daya tarik tema dan kedekatan fakta cerita. Bahasa kemudian difungsikan untuk menuturkan cerita, membungkusnya, dan kemudian menghadirkannya ke khalayak. Dalam kondisi seperti ini, bahasa hadir pada tataran praksis, bukan sesuatu yang menggejolak dan menggemparkan.             

 

 

Sudarmoko, peneliti sastra Indonesia, tinggal di Padang.


Blog EntrySep 14, '05 6:53 PM
for everyone

Komunitas dan Perkembangan Sastra Kita

Oleh Sudarmoko

 

Berbagai tanggapan diberikan terhadap kemunculan berbagai komunitas yang memiliki tujuan untuk mengembangkan sastra Indonesia. Komunitas-komunitas itu sebagian besar didirikan oleh berbagai kelompok anak muda, yang memiliki pandangan tersendiri atas budaya Indonesia. Komunitas-komunitas yang juga secara tak langsung memiliki nilai penting bagi kebudayaan Indonesia dan juga memiliki arti penting dalam pergeseran dan perkembangan wacana dan mainstream atas komunitas-komunitas yang lebih dahulu didirikan.

Reaksi dan pandangan terhadap komunitas-komunitas seni dan sastra memang bermacam-macam. Ada yang menduga komunitas digunakan sebagai click bagi link-link terhadap akses yang lebih luas. Ada yang memang diniatkan sebagai media untuk proses belajar dan mengembangkan diri. Ada yang memprogramkan sejumlah kegiatan yang mengasyikkan dengan talk show, temu penulis, workshop, hingga seminar. Sebagian menggunakan metode tatap muka dengan kegiatan rutin, dan sebagian lain dengan menggunakan milis atau media lainnya. Sementara itu, masih ada yang bersetia dengan media massa sebagai wujud dari komunitas itu sendiri. Demikianlah sedikit gambaran akan komunitas-komunitas yang ada. 

Salah satu tanda dari kemunculan komunitas-komunitas itu adalah banjirnya karya-karya sastra. Saat ini kita disuguhi berbagai karya kreatif sastra dan pemikiran-pemikiran yang dihasilkan dari berbagai pegiat sastra dari berbagai daerah, yang juga, dengan sendirinya, membawa corak dan ragam pemikiran yang beraneka ragam. Dapat dikatakan bahwa akhir-akhir ini sastra Indonesia diramaikan oleh pendatang baru yang bertahun kelahiran 1970-an dan 1980-an. Sebuah semangat yang mungkin akan membuat perubahan dalam catatan sejarah budaya dan sastra Indonesia di masa depan. Apa yang dapat dibayangkan dan dicatat atas fenomena ini?

Setidaknya ada tiga catatan penting atas fenomena ini. Pertama, semangat sezaman yang dialami oleh penggiat-penggiat sastra kini meningkatkan daya kreativitas, baik dalam hal penciptaan maupun media publikasi. Dapat disaksikan kerja-kerja yang dilakukan oleh Akademi Kebudayan Yogyakarta yang mencari bentuk pengucapan alternatif dalam ‘mempergunakan’ sastra sebagai sebuah medium dalam gerakan dan pemikiran sosial. Demikian juga dengan Forum Lingkar Pena yang memiliki jumlah anggota dan penerbitan karya-karya anggotanya yang luar biasa dalam hal kuantitas.

Kedua, masalah ini berkaitan dengan identifikasi diri pegiat sastra dan budaya. Sastra menjadi sesuatu yang sangat fashionable dan digemari sebagai sebuah jalan hidup. Dengan ketekunan dan keyakinan, mereka yang telah dan mulai menemukan bentuk pengucapan dan pencarian dalam dunia tulis menulis ini semakin mengidentifikasikan diri ke dalamnya. Dengan kata lain, sastra semakin berterima dan mengalami pemaknaan ulang di beberapa bagian. Pencitraan yang dilekatkan terhadap sastra dan sastrawan pada masa-masa sebelumnya, yang sebagiannya bernada negatif, telah mengalami perubahan. Dengan semakin banyaknya komunitas didirikan, akan semakin seringlah tingkat interaksi dan komunikasi yang dibangun oleh dan untuk penggiat-penggiat sastra itu.

Catatan ketiga yang dapat diberikan, dan nampaknya menjadi masalah yang paling bertahan lama dalam perjalanan sastra Indonesia, adalah masalah kualitas dan dunia pemikiran di dalam keriuhan fenomena ini. Untuk masalah ini sepertinya tidak beranjak dari keadaan sebelumnya, dimana dunia pemikiran, kritik dan kritikus, dan respon yang diberikan tidak terlalu meningkat kondisinya. Hanya sedikit nama yang muncul dengan membawa pemikiran-pemikiran kritis sebagai wacana reaktif terhadap banjir karya kreatif itu. Dalam hal ini kita bisa menyebut sejumlah nama yang dengan berani menjejakkan diri pada ranah penawaran pemikiran seperti Eka Kurniawan, Binhad Nurrohmat, Nur Zain Hae, Agus Hernawan, Anton Kurnia, Ricky Damparan Putra. Hal ini memang mengukuhkan persoalan lama yang terus saja terjadi, krisis kritikus.

Tak ada yang dapat menjamin bahwa dengan krisis kritikus ini maka medan perebutan dan pemberian makna dan penafsiran atas karya-karya kreatif diserahkan pada pembaca an sich. Apakah pembaca kini semakin kritis dan reaktif? Namun kenapa tak banyak reaksi dan resepsi yang diberikan atas karya-karya kreatif itu dalam lalu lalang pembicaraan kita? Memang ada kemungkinan bahwa reaksi-reaksi dan pemberian kritik itu terdapat dalam berbagai perbincangan, seperti, di milis-milis yang kini menjadi sangat lumrah dan jamak. Namun itu menjadi sebuah persoalan yang agak berbeda bila dikaitkan dengan pembicaraan ini.

Keberanian anak muda, seperti yang diucapkan Pramudya (Koran Tempo, Selasa, 8 Februari 2005) tampaknya bukan hanya dikaitkan, dengan dan dalam, menghadapi rezim kekuasaan dan realitas sosial, tetapi juga dalam mengungkapkan pikiran dalam karya kreatif dan juga dalam wacana kritik sastra kita. Saat ini dapat dikatakan bahwa kekuasaan rezim tidak lagi bersifat frontal seperti pada masa sebelumnya. Meski harus juga ditambahkan bahwa itu bukan berarti tidak ada ancaman terhadap kondisi sastra kita, mengingat berbagai perubahan yang terjadi selama ini sering kali tak dapat diduga. Salah satu bentuk tantangan itu adalah keberanian untuk terus bersikap kritis, baik terhadap kondisi sosial maupun dalam memberikan penilaian terhadap karya-karya dan pemikiran yang ada. “Bersilang kayu makanya api hidup”. Tanpa itu semua, mungkin sejarah sastra dan budaya kita hanya akan menemui sebuah banjir karya kreatif tanpa menemukan catatan nalar kritis atas berbagai perkembangan dan wacana yang ada.

***

Dengan melihat perkembangan komunitas-komunitas ini, dapat ditemui juga sebuah dugaan yang menarik. Selain komunitas-komunitas yang lebih dahulu ada, yang biasanya didasarkan atas pertimbangan profesi atau aktivitas yang memerlukan naungan kelompok (seperti teater, tari, musik), komunitas-komunitas yang kini banyak tersebar merupakan wujud dari keinginan untuk berkelompok atau mensinergikan kerja-kerja yang sama. Keinginan yang kemudian dapat dilacak jejaknya pada pencarian link-link dengan berbagai tujuan: penerbitan, pengumpulan ide dan gagasan, pendidikan dan kaderisasi, rekayasa pembentukan mainstream, dan entah apa lagi.

Apakah dengan pendirian dan masuk ke dalam lingkaran komunitas akan mempengaruhi bentuk ucap dan daya ucap? Masih harus dicarikan jawabannya melalui penelitian yang lebih dalam. Setidaknya hal ini memperlihatkan sebuah usaha bersama dalam menjaga energi dalam kelangsungan proses kepenulisan. Sementara hari ini, lebih banyak orang yang menjadikan komunitas sebagai ruang bersama untuk melanggengkan proses dan mendapatkan informasi demi kepentingan kepenulisan itu sendiri.

Identifikasi, seperti telah disinggung di atas, lebih dijadikan sebagai simbol. Usaha-usaha untuk keluar dari kungkungan ini mungkin akan memerlukan waktu yang panjang. Bagaimana seorang penulis, sebagai misal, mampu menggunakan komunitas sebagai tempat belajar dan mengisi energi kreatif, untuk kemudian mengolahnya menjadi sebuah bentuk ucap dirinya sendiri, dengan menempuh proses personalnya. Karya kreatif sebagai kerja personal semakin menjadi tantangan. Puthut EA dan Eka Kurniawan nampaknya menempuh usaha ini, melakukan pencarian baru dalam proses kreatifnya. Melepaskan ‘kungkungan’ komunitas menuju sebuah proses yang lebih personal, lewat ‘perjalanan’ kreatifnya, entah itu bersama komunitas lain atau dengan perjalanan pribadi. Mungkin akan menarik melihat fenomena ini dalam sebuah kerangka pandangan kreatif.

Sementara di berbagai daerah, tentu, keadaan yang serupa ini tetap bertahan. Demikian banyak komunitas seni dan sastra yang ada di daerah yang terus mengusahakan sebuah atau beberapa kerja seni atau penulisan, yang terus mencari jalan keluar bagi kegelisahan yang terjadi. Namun, bagaimana semua ini bisa dilihat? Tentu saja keterbukaan dan saling berbagi informasi dan managemen masih terus perlu dilakukan. Bukan apa-apa, namun keinginan untuk berkomunikasi dan mencari format terbaik dalam kerja ini memang membutuhkan energi yang besar.

Kehadiran komunitas-komunitas, pada akhirnya, menunjukkan arah yang menarik dalam perkembangan sastra kita dewasa ini. Banyak silaturahmi yang dihasilkan dan dilakukan oleh mereka. Demikian juga dengan hasil yang telah dicapai, baik dalam hal karya kreatif maupun diskusi-diskusi dan kertas-kertas kerjanya. Namun demikian juga harus dilihat kembali kehadirannya dalam keutuhan persoalan sastra kita.   

 

Penulis, bekerja untuk komunitas langkan budaya indonesia padang.


EventAug 29, '05 9:07 PM
for everyone
Start:     Nov 13, '05 10:00p
End:     Nov 20, '05
Kami merancang sebuah acara kunjungan dan silaturahmi ke komunitas-komunitas budaya yang ada di Sumatra Barat. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Komunitas Langkan Budaya Indonesia-Padang dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan didukung oleh sejumlah komunitas dan kantong budaya yang ada di Sumatra Barat. Acara ini bertujuan untuk mengumpulkan masalah-masalah khas pengembangan komunitas budaya dan mencari alternatif penyelesaiannya. Selain itu juga disertai dengan apresiasi sastra di beberapa sekolah, pesantren, dan panti asuhan. Informasi lebih lanjut akan menyusul.

Blog EntryAug 29, '05 8:45 PM
for everyone

Membaca Kematian dalam Sastra

Oleh Sudarmoko

TAK dapat dimungkiri bahwa kematian menjadi bagian yang sangat intim dalam karya sastra. Baik itu dalam pengungkapan tema, sebagai kenyataan dalam cerita, peristiwa, maupun pandangan tokoh terhadapnya. Demikianlah, maka segala genre sastra banyak berbicara tentangnya. Lebih nyata lagi, pada media lain, misalnya dalam film-film kartun untuk anak-anak, adegan kematian dan ’kehancuran’ itu disajikan dengan sangat gamblang dan seakan-akan menjadi sangat lucu. Dan dalam kehidupan masyarakat budaya kita pun terdapat banyak ritual yang berkaitan dengan kematian. Bahkan yang menghabiskan sejumlah besar dana dan masa sekalipun.

Kenyataannya, dalam kehidupan kita pun selalu berhadapan dengan tema ini. Kematian menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kita. Sebuah risiko pasti dari hidup adalah mati. Ia menjadi bagian yang sering kali tak lagi diperhatikan karena ia sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Media massa setiap hari mengabarkan kematian. Entah dengan cara bagaimana dan sebab apa, nyatanya kematian menjadi sebuah kabar yang tak lagi membuat kita berduka atau berkabung. Ya, sebab kita begitu kebal karenanya.

Dalam sastra, hal ini menarik untuk dilihat bagaimana pengarang memperlakukan kematian yang dihadapi tokoh-tokohnya, atau ia menjadi tema, atau ketika kematian tersaji sebagai menu tambahan saja. Eka Kurniawan, misalnya, dalam Cantik Itu Luka (AKY Press dan Jendela, 2002) menggambarkan kematian sebagai sebuah kelumrahan. Pada paragraf-paragraf pertama pun dia sudah memberikan gambaran yang menyuramkan tentang kematian, tentang kebangkitan, tentang kelahiran, yang menciptakan sebuah sublimitas peristiwa sekaligus.

Kemudian, di sana-sini ia menghadirkan lagi kematian itu, dalam perang, karena cinta tak sampai, duel preman, penyakit dan kelaparan, atau hanya karena usia yang telah sampai di ujung. Gambaran yang lebih detail adalah dengan kehadiran hantu-hantu komunis akibat pembantaian luar biasa itu. Sebuah gambaran yang tereksplorasi dengan baik dan luar biasa untuk menunjukkan sebuah teror atas dan dari kematian yang dipaksakan, protes atas pengambilalihan hak mencabut nyawa dari malaikat elmaut. Tak dapat dibayangkan bagaimana sibuknya malaikat ketika itu, gambaran ini tak terdapat dalam novel tersebut, seperti juga ketika kematian massal terjadi karena sebab dan di tempat lain.

Sementara Kurnia Effendi lebih lembut lagi dalam melihat kematian dalam cerpen-cerpennya. Dalam antologi Senapan Cinta (Gagas Media, 2004), beberapa cerpen menjadikan kematian sebagai tema utama. Dan yang menarik, tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen Kurnia memiliki pandangan yang positif terhadap kematian. Lihatlah bagaimana perjalanan yang ditempuh seorang gadis ABG untuk menonton sebuah konser musik ("Alyesha Tak Mau Tidur"). Alangkah indahnya perjalanan dan berbagai metafor yang digunakan Kurnia dalam menceritakannya. Saya pikir ini sebuah cerpen yang sangat berhasil dalam antologi ini, dan salah satu capaian yang bernilai dari Kurnia. Atau juga ketika seseorang menemani ayahnya yang menunggu ajal, bercerita, merokok, seperti sebuah jamuan bagi seorang tamu agung yang bakal datang, namun si tuan rumah harus mengumpulkan dan menunggu kelengkapan anggota keluarganya (dalam "Menemani Ayah Merokok"). Pada cerita tentang pembuangan abu jenazah ("Abu Jenazah Ayah"), Kurnia menghadirkan sebuah humor terhadap ritual itu, ada sisi lucu pada kematian. Terutama dalam hal bagaimana pandangan dan sikap kita terhadap orang yang sudah meninggal. Demikianlah, kematian dihadapi dengan berbagai cara, berbagai rasa.

AA Navis dalam cerpennya "Dokter dan Maut" (dalam antologi Bertanya Kerbau pada Pedati, Gramedia Pustaka Utama, 2002) membuat sebuah gambaran lain yang menyenangkan ketika sang Dokter dikunjungi seorang bekas pasiennya yang ternyata adalah malaikat maut. Mungkin terinspirasi oleh novel A Chrismast Carol karya Charles Dickens, sebuah novel yang sangat populer dan banyak difilmkan dalam berbagai versi dan adaptasi, jalan ceritanya seperti sebuah persahabatan antara seorang manusia dan malaikat maut. Yang membedakan keduanya adalah akhir cerita. Pada cerpen Navis sang Dokter memilih untuk pergi bersama malaikat maut, sementara pada A Chrismast Carol, Scrooge tak mau mati dan ingin membayar perbuatannya dulu baru bersedia mati.

Contoh-contoh di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena kematian dalam karya sastra, dan belum dapat dikatakan dapat mewakili keseluruhan fenomena yang terjadi. Namun paling tidak, hal itu dapat menunjukkan bahwa tema ini mendapatkan perhatian dari pengarang seperti ditunjukkan dalam sejumlah karya. Namun, meski tema kematian ini juga menjadi tema dalam filsafat yang tak pernah habis dibahas, hal ini, dan tulisan ini, tidak berpretensi untuk sampai pada bahasan tentang penyebutan atau kategorisasi karya sastra filsafat. Ia hanya menjadi sebuah penunjuk bahwa pada dasarnya karya sastra menawarkan sebuah pandangan mendasar, sesederhana apa pun dia, dan karena itu ia penting bagi manusia.

Kematian dalam sastra kadang menjadi sebuah tanda dari realitas sikap masyarakatnya. Pada cerpen Navis, motif kebersediaan sang Dokter untuk pergi bersama malaikat maut adalah karena sang Dokter sudah tua dan tak memiliki tenaga lagi untuk mengubah keadaan sekitarnya. Meski sang Dokter memiliki pilihan untuk tetap tinggal, setelah menyaksikan bagaimana rakus sanak familinya untuk menguasai harta warisannya dengan berbagai tipu muslihat, sang Dokter tak memilih untuk tinggal. Jika kita simak kutipan di bawah ini, akan nyatalah bagaimana motif itu digunakan oleh Navis.

"Bagaimana Dokter? Apa Tuan masih ingin hidup lebih lama lagi?" tanya Sang maut itu tetap dengan senyumnya. Senyum itu kian manis dalam pandangan dokter itu.

"Jika aku boleh mengulang hidupku sebagai orang muda, akan lain yang aku kerjakan. Takkan aku biarkan kebobrokan ini berlangsung terus. Tapi untuk hidup lebih lama sebagai orang tua, tanpa daya, oh, minta ampun," katanya yakin.

Kini tubuhnya terasa demikian ringannya. Mati itu tidak dirasakannya seperti yang dikiranya selama ini. Mati hanyalah suatu perpindahan hidup. Namun hatinya sedih juga. Sedih yang lain. Sedih melihat tingkah laku orang-orang yang jadi sahabat dan kerabatnya sesudah kematiannya. (Navis, hal 23-24).

Sikap menyerah dan apatis ini merupakan sikap yang tak begitu susah ditemui dalam realitas. Dan alasan alami seperti ketuaan merupakan sebuah alasan yang juga jamak ditemukan.

UPACARA-upacara kematian masih dapat ditemukan dalam masyarakat kita. Selain menjadi tuntutan adat, upacara itu juga dilakukan dengan alasan lain semisal agama, institusional (seperti militer yang memiliki cara tersendiri dalam menghormati prajurit yang gugur), maupun negara (saya teringat tabur bunga atau penghormatan pada pahlawan dalam sejumlah upacara). Cukup banyak alasan untuk melakukannya, meski upacara itu, seperti disebut di atas, sering tak berpengaruh dalam mengganggu rutinitas hidup yang memang sudah cukup sibuk.

Akan tetapi, bagaimana dengan tema ini dalam sejarah kelam kejahatan manusia atas manusia lain yang berujung pada hilangnya nyawa orang lain? Tentu saja tumpukan ingatan akan hal itu lari pada karya-karya yang berlatar belakang, atau dihasilkan, dari sebuah cuplikan periode kelam berbagai peristiwa kejam; keganasan perang dan pembantaian di berbagai belahan dunia. Catatan menarik diberikan oleh Matthew D Coffman dalam "Dark Matters: Death, Language, and Human Limitation in British First World War Poetry" (2003: 74): Death itself remains unknowable. Rather than assume an impossible understanding of death, the war poems explore the fuzzy territory that lies between the dead and the denial of death. Although the effect of life by death may not be dramatic effect the writer or reader was expecting, death may nevertheless cause subtle inflections in the lives of those who survive close contact with it. Di bagian lain Coffman mempertanyakan adakah puisi lahir dari kekejaman dan hilangnya nyawa banyak orang, seperti Perang Dunia I dan II, dan bagaimana puisi bisa lahir dari sebuah kedahsyatan kesengsaraan dan kekejian yang dilakukan manusia. Sebuah pertanyaan yang rasanya sangat ironis, namun terbukti bahwa sastra kadang bertugas mencatat berbagai peristiwa, bahkan yang paling keji dan busuk sekali pun.

Coffman memang mengkhawatirkan adanya akibat dari tema ini dalam kehidupan manusia. Sebagaimana juga bahwa karya sastra dibaca oleh orang-orang yang masih hidup, dan karena itu akan memiliki efek bagi kehidupannya. Bukan berarti bahwa kekejaman dan kematian akan begitu saja dimaknai oleh pembaca dan memiliki pengaruhnya dalam kehidupan. Pembaca memang diharapkan akan memperoleh makna dan manfaat dari bacaannya. Dan dengan begitu, karya sastra akan memiliki arti dan fungsinya yang penting.

Namun, kekejaman seperti itu tak harus mengambil contoh pada kebrutalan masif. Ia bisa saja hadir dalam kekejaman atas individu yang dilakukan baik secara personal maupun institusional. Dan kita sudah cukup akrab dengan ini semua. Berbagai peristiwa tentang itu dapat dengan mudah kita dapati dalam surat kabar maupun setiap siang dan senja hari di televisi-televisi. Anehnya, kita menikmatinya dengan senang sambil makan siang, minum jus atau es teh, mengisap rokok, atau bercanda dengan orang di sekitar, mungkin.

Sudarmoko sedang belajar di Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, Leiden.

Sumber: Kompas, Minggu 13 Maret 2005, http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0503/13/seni/1615798.htm


Blog EntryAug 29, '05 8:43 PM
for everyone

Saidjah Ada di Mana-mana!

DI tengah hiruk-pikuk kampanye di Indonesia, sebuah pementasan tentang Indonesia digelar di negeri asing sejauh 15.000 kilometer, dan berbeda waktu 6 jam. Para seniman dari berbagai disiplin seni ini berpentas keliling di enam kota Belanda, tanggal 11-21 Maret 2004. Di negeri yang pernah menjajah Indonesia tersebut mereka bercerita tentang persoalan penjajahan. Cerita berangkat dari sebuah novel yang ditulis Multatuli, Max Havelaar: Saidjah dan Adinda.

Adaptasi yang dilakukan terhadap novel ke atas pentas memang cukup kompleks. Bukan saja masalah artistik pementasan, tetapi juga masalah tema dan pengucapan yang dibentuk.

Pentas dibuka dengan tarian yang menggambarkan kekayaan tanah Indonesia. Sawah yang luas terbentang, dua ekor kerbau milik Saidjah yang tengah membajak, dan orang-orang yang mengolah sawah. Lalu, adegan masuk pada persoalan penjajahan, baik yang dilakukan oleh Belanda maupun orang-orang Indonesia yang menjadi antek penjajah.

Adegan demi adegan berganti antara tarian, teater, wayang kulit, wayang orang, musik, puisi, dan nyanyian. Kekompleksan ini juga terlihat dari usaha sutradara (para sutradara?) dalam memungut berbagai sumber inspirasi dari berbagai daerah. Ada tarian seudati dari Aceh, saluang Minang, tari ronggeng, tari bedaya Jawa, dan macapatan.

Pementasan ini dapat dikatakan merupakan sebuah kolaborasi antara beberapa orang dan bidang kerja yang berbeda. Penari dan koreografer Martinus Miroto, komposer dan pemusik Blacius Subono, ahli tari yang untuk pementasan ini menyiapkan syairnya S Kardjono, dan pekerja teater Susilo Nugroho. Seluruhnya ada 22 seniman yang mendukung pementasan ini.

Tampaknya, usaha yang dilakukan ini membawa sebuah narasi pada keuniversalitasan masalah yang diangkat: bahwa penjajahan terjadi bukan hanya di Lebak, bahwa seluruh bangsa melakukan agitasi dan perlawanan terhadap penjajahan, bahwa penjajahan masih terjadi hingga kini dalam segala bentuk, bahwa perjuangan masih berlangsung, bahwa Saidjah ada di mana-mana dan kapan saja!

Sebagian besar kritik yang dibawa dalam pentas ini tertuju pada kekinian. Bukan masalah kapan dan di mana Multatuli menulis naskahnya, tetapi bagaimana kini kita masih terus berjuang dan menghadapi penjajahan. Ketika pementasan ini dibawa pada saat dan tempat yang berbeda dan sensitif, saat kampanye pemilihan umum di Indonesia dan di depan publik bekas negara penjajah, tentulah sedikit banyak terjadi penyesuaian.

Muatan narasi lebih banyak berbicara tentang sosok kepemimpinan para pejabat, moralitas dan etika pemimpin, keberpihakan pada rakyat, dan perjuangan yang dilakukan oleh rakyat. Lihat saja bagaimana porsi penjajah lebih sedikit dan hanya diwakili oleh sosok residen dan asisten residen sebagai tokoh utama setelah Saidjah dan Adinda. Capaian adaptasi ini, saya kira, merupakan sebuah kesadaran yang harus diambil ketika sebuah teks berbicara pada garis yang sensitif. Multatuli sendiri menulis dari sebuah kacamata seorang (mantan) penjajah yang melihat dan memberikan simpati dan empati pada perjuangan anak negeri terjajah.

Di satu sisi, Multatuli adalah seorang desersi yang "membangkang" aturan dan tugas yang harus dijalankannya. Pada sisi yang lain, ia adalah seorang penolong dan pahlawan bagi para pejuang. Di sini saja kita bisa melihat sebuah masalah yang menarik atas sebuah teks. Lebih jauh lagi, hal ini juga memperkaya kedalaman teks yang ia bangun lewat tokoh Max Havelaar, Saidjah, dan Adinda.

Meski berpihak, Max masih tak bisa melepaskan diri dari sebuah sistem yang ada di sekitar, dan mengikat, dirinya. Jika hanya dirinya yang memberikan perhatian dan pembelaan, sementara orang-orang di sekitarnya tak melakukan hal serupa, tentulah akan sulit mencapai apa yang dicita-citakan. Max memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan asisten residen. Jabatan baginya adalah sebuah sarana untuk mencapai sebuah cita-cita. Bila tak terwujud, lebih baik mencari jalan lain.

Dalam pamflet yang disebar disebutkan, pementasan ini merupakan sebuah tawaran akan pandangan yang berbeda terhadap novel yang sangat terkenal, Max Havelaar. Itulah "pandangan Indonesia" terhadap sebuah novel dan penjajahan yang ditulis oleh orang Belanda, Multatuli.

Keingintahuan publik di Belanda cukup tinggi. Di Amsterdam, menurut berita di koran-koran dan informasi dari Radikal, salah seorang relawan yang membantu tur pementasan ini, banyak orang tak mendapatkan tempat untuk menikmati pertunjukan tersebut. Adapun di Maastricht (Theater aan het Vrjthof, Selasa, 16 Maret 2004), masih tersisa beberapa kursi ketika pertunjukan berlangsung.

Penampilan para aktor juga memperlihatkan sebuah kerja keras di dalam memaknai ulang dan mentransformasikan gagasan ke atas pentas. Pergantian antar-adegan tersusun dengan rapi, halus, nyaris tanpa sentakan dan ketergesaan-sebuah usaha yang juga selalu diperhatikan oleh Teater Garasi dan Teater Mandiri. Anyaman antar-adegan sengaja dijaga ritme dan pergantian antara berbagai disiplin yang diusung.

Kehadiran tokoh Semar dan Gareng ke atas pentas mewarnai panggung dengan "aroma" wayang yang kental, di samping sajian musik maupun tembang-tembang garapan S Kardjono. Kehadiran mereka tetap berfungsi sebagai alat kritik yang terbungkus dalam komedi. Bagi penonton, kehadiran kedua tokoh ini juga menjadi jeda untuk menarik napas setelah, dan ketika akan, menikmati dan menafsirkan makna melalui bahasa yang berbeda antara bahasa koreografi, musik, puisi, wayang, dan lainnya.

Pementasan ini, setidaknya, merupakan sebuah suara dari sekian banyak suara yang berbicara tentang penjajahan, sebuah interpretasi dan adaptasi atas sebuah teks sejarah dan kemanusiaan. Apalagi pementasan ini dihadirkan di sebuah negeri bekas penjajah, oleh yang pernah dijajah, maka setidaknya ia menjadi sebuah titik untuk melihat ulang bagaimana tidak enaknya dijajah. Ia menjadi sebuah peristiwa tragis bagi nilai kemanusiaan, dan kemudian mencari sebuah tindakan yang bijak bagi dan atas nama kemanusiaan-bukan memperbesar sensitivitas dan saling menyalahkan.

Sudarmoko Aktif di Komunitas Langkan Budaya, Padang, Saat Ini Tinggal di Maastricht, Belanda

Sumber: Kompas, Minggu 4 April 2004, http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0404/04/seni/947864.htm


Blog EntryAug 29, '05 8:35 PM
for everyone

Menimbang Kembali Kondisi Kritik Sastra Kita

Oleh: Sudarmoko

Kondisi kritik sastra yang berorientasi pada keilmuan dan kebutuhan sastra masih terus diliputi tanda tanya. Penelitian sastra Indonesia yang dilakukan oleh para peneliti di lingkungan akademis berjalan sebanding dengan kebijakan akademis dan struktural yang dilakukan oleh pihak akademi, maupun pada skala yang lebih besar negara, melalui departemen di bidang kebudayaannya. Mau tak mau, hal ini sudah dimengerti secara umum, penelitian sastra belum mengarah pada usaha yang maksimal. Setidaknya, melihat kondisi yang ada, seharusnya kondisi kritik sastra dapat lebih baik dari kondisi yang ada saat ini.

Pihak akademi (katakanlah universitas) belum secara penuh menggali dan mengeksplorasi berbagai kekayaan sumber dalam sastra yang ada. Padahal, bila dilihat letak geografis dan kemungkinan capaian yang dihasilkan, tidaklah berlebihan bila mengharapkan hasil yang lebih yang dapat dicapai oleh berbagai universitas, khususnya fakultas sastra (ilmu budaya) dan lembaga lain yang mempunyai bidang kajian yang serupa. Misalkan masing-masing universitas, yang notabene di beberapa provinsi masing-masing memiliki lebih dari satu universitas yang memiliki fakultas sastra, plus sekolah tinggi seni, bila para dosennya melakukan penelitian sastra lokal, misalnya, maka akan dihasilkan jumlah penelitian yang lebih dari keadaan pada hari ini.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ke manakah hasil-hasil penelitian yang ada itu? Atau dapatkah diterka bahwa memang sedikit yang melakukan penelitian dan memberikan kontribusi penting bagi penelitian sastra Indonesia? Karena dapat dilihat bahwa proyek penelitian di lembaga pendidikan dan penelitian masih terus berjalan, dalam segala level cakupannya.

Pertanyaan ini masih bisa diteruskan dengan berbagai nada kekhawatiran dan sinisme yang rasanya patut dikemukakan. Pergerakan kemunculan nama-nama dalam kajian sastra Indonesia terasa lamban. Padahal, sejarah sastra Indonesia telah berjalan lama berikut berbagai diskusi di dalamnya. Krisis kritikus, seperti dicatat Jassin, terus berlangsung. Bila Taufiq Ismail mencatat bahwa pembaca sastra sangatlah jarang, maka, lebih-lebih lagi, hanya sebagian kecil dari pembaca itu yang kemudian mereproduksi bacaannya. Kritik sastra menjadi wilayah yang sepi dan rapuh.

Kemandekan pemikiran

Untuk melihat lebih jauh permasalahan di atas, baik dilihat juga bagaimana sistem pengajaran yang diterapkan di kelas-kelas sastra, baik di universitas maupun di sekolah-sekolah. Bila bahan-bahan yang diajarkan di berbagai kelas sastra itu tak diperbaharui, maka yang terjadi adalah kemandekan pemikiran dan penawaran dalam melihat sastra dan segala fenomena yang terjadi di dalamnya.

Sastra lalu menjadi fosil dalam kelangsungan proses pembelajaran. Padahal, sastra terus berkembang. Hingga saat ini pengajar sastra belum mereproduksi pembicaraan mengenai kritik sastra dalam bahasa yang bisa dikomunikasikan dengan murid atau mahasiswa. Apalagi membahasakannya kepada publik yang lebih luas melalui media massa. Pun, kritik sastra di media massa seperti monolog yang tak jelas pengaruhnya dalam arus komunikasi yang berusaha dijalin. Idealnya kritik-kritik sastra yang ada itu mendapatkan pembicaraan dalam kelas-kelas sastra dengan membedahnya lebih lanjut, seraya menghadirkan wacana tandingan.

Dari pembedahan itu, diharapkan akan menimbulkan pandangan kritis yang menjalar pada pencarian sumber-sumber baru, sudut pandang baru, dan alternatif penawaran yang baru. Bila ini terjadi, maka akan bermunculanlah berbagai pandangan baru dalam melihat sastra. Sekecil apa pun reaksi yang diberikan, sastra tetaplah membutuhkannya. Nilai-nilai dalam sastra hanya akan muncul lewat interpretasi dan diskusi. Bila hal ini diabaikan, tidak mustahil sastra akan menemui kebuntuan. Karena sifatnya yang taksa, nilai dan makna serta pesan karya sastra memungkinkan untuk melakukan diskusi terus-menerus dan dari situ akan muncul berbagai kemungkinan baru.

Melihat kondisi yang ada, setidaknya diperlukan peneliti dan orang yang mencintai sastra sebagai sebuah kajian, dan bukan sebagai sebuah kegenitan. Berbeda dengan penulis karya kreatif yang bisa berlatar apa saja. Meski kritik sastra bukanlah ranah otoritas mutlak bagi mereka yang terdidik dalam jalur bidang sastra saja. Saat ini semakin banyak muncul sejumlah penulis esai sastra yang membuat pembicaraan sastra semakin riuh dan kadang tak memiliki bangunan analisis yang kuat.

Dari kecintaan dan keseriusan dalam melakukan penelitian sastra, maka akan bermunculan pribadi-pribadi yang meletakkan sastra sebagai subjek dan objek kajian. Sastra tidak lagi dilihat sebagai sebuah fosil yang harus diutak-atik, namun lebih sebagai gejala yang menggoda dan memikat perhatian. Hal ini dimungkinkan oleh semakin banyaknya karya yang tak tersentuh. Sebagian karya sastra hingga saat ini bahkan tak pernah menjadi perhatian karena kekurangan daya, baik dari karya itu sendiri maupun dari para peneliti.

Media publikasi

Persoalan berikutnya adalah masalah media publikasi. Dalam hal ini, memang koran-koran dan majalah yang menyediakan ruang budaya dan sastra secara khusus disediakan oleh hampir semua penerbitan. Namun, untuk meningkatkan motivasi dan kegairahan dalam meneliti dan mempublikasikan hasil penelitian tetap dibutuhkan ruang khusus yang memiliki nuansa khusus pula. Setidaknya, diperlukan sebuah berkala yang khusus menjadi ruang publikasi dan dialog keilmuan sastra, bukan hanya koran atau majalah yang editorialnya menyerahkan sebagian besar tanggung jawab pada penulisnya, karena ruang dan waktu yang mendesak.

Demikian juga tak banyak buku yang berangkat dari hasil penelitian yang serius, dan bila pun ada, maka itu sangat langka karena harus menunggu seseorang menyelesaikan S2 atau S3, yang sistemnya bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Apa jadinya sebuah bidang ilmu tanpa ada jurnal atau media yang bergengsi untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya. Memang, dari lembaga bernama Pusat Bahasa (atau Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dulu) muncul berbagai buku hasil proyek penelitian sastra. Memang tidak semua buku itu representatif, karena memang kebanyakan sangat konvensional dan kaku. Contoh yang menarik adalah ditiadakannya (untuk sementara) kategori nonfiksi untuk Kathulistiwa Literary Award karena alasan minimnya jumlah buku kategori ini yang diterbitkan (Kompas, 2/7/2005).

Berlanjut dengan apa yang pernah ditulis oleh Amien Wangsitalaja setahun lalu (Republika, 4/7/2004) diperlukan juga sebuah Dewan Sastra yang mengurusi penelitian dan media publikasi berupa jurnal. Bukan hanya membonceng sebuah lembaga bernama Pusat Bahasa atau Balai Bahasa, yang sebagian besar hanya berupa kerja-kerja proyek. Pemikiran dan usulan Amien ini semakin mendesak karena perkembangan keilmuan dan kajian sastra Indonesia seharusnya dapat lebih baik dari keadaan saat ini. Bila hal ini tak diperhatikan, maka akan dapat diprediksi bahwa pada masa-masa yang akan datang, kajian sastra Indonesia akan berutang banyak referensi pada publikasi yang diusahakan oleh pemerhati sastra Indonesia di luar negeri. Kita dapat menyebut sejumlah jurnal yang memiliki fokus ranah perhatian pada sastra dan budaya Indonesia yang diterbitkan oleh sejumlah universitas atau lembaga penelitian di luar.

Meski demikian, lagi-lagi patut diperhatikan situasi penelitian sastra di universitas-universitas, yang sebenarnya menjadi tulang punggung dari kehidupan kritik dan penelitian sastra kita. Pada sisi yang lain, saat ini kita menghadapi kritik-kritik yang tersebar di media massa yang mau-tidak-mau menjadi badal dari kekosongan kritik dan penelitian sastra kita. Kita berterima kasih kepada para penulis esai lepas itu karena merekalah yang tetap menjaga keberlangsungan kritik sastra. Meski dalam beberapa hal, publikasi dan sosialisasi ini memiliki keterbatasan, namun patut disadari bahwa melalui publikasi tulisan ilmiah populer ini merupakan salah satu media untuk komunikasi dan perkenalan dengan gejala sastra pada masyarakat luas.

Jika perhatian lebih dapat diberikan, usulan Amien di atas dapat dilakukan dengan cara merangsang peneliti-peneliti sastra muda dalam melakukan kerja-kerja ilmiah, sembari tetap mendapatkan perhatian dari kritikus dan peneliti sastra yang lebih dahulu mapan. Bagaimanapun, perjalanan dan perubahan masa mempengaruhi sudut pandang dan semangat yang berbeda dalam melihat berbagai gejala yang ada. Karena itu, dibutuhkan sebuah usaha serius untuk membuka dan merangsang penelitian sastra kita. Yang sudah malang melintang dalam penelitian dan penulisan kritik sastra mungkin bisa dijadikan penasihat atau editorial board atau penyandang dana, dan kini yang lebih muda diberi ruang untuk melakukan penelitian. Namun, ruang yang diberikan sebaiknya tetap sama.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk memulai dan mewujudkan usaha ini adalah dengan mengoptimalkan dan mendukung secara penuh lembaga-lembaga, baik formal maupun nonformal, yang telah berusaha menyediakan bahan-bahan kajian. Misalnya saja, PDS HB Jassin semakin sulit melayani dan menambah koleksi karena keterbatasan yang ada. Meski patut disadari bahwa usaha ini tidak terfokus pada wilayah tertentu yang menciptakan kesulitan baru dalam hal akses. Usaha seperti ini bisa diciptakan secara sporadis dengan membuat jaringan di berbagai daerah yang potensial, dengan memulai sebuah usaha dalam mengumpulkan dan menyelamatkan bahan-bahan yang ada di berbagai tempat, menyimpan, menggandakan, menyebarkan, mengatalogkan, dan menjadikannya sebagai bahan yang mudah diakses bagi pelaku penelitian sastra kita.

Sementara ini, sejumlah akademikus di fakultas-fakultas sastra, guru-guru sastra, atau siapa pun yang berada dalam institusi yang sejenis, mungkin harus diberi penyegaran, diajak berbicara dan berdiskusi (workshop), diajak melakukan penelitian, diundang menulis, dan sebagainya. Dengan itu semua, mereka akan mendapatkan tambahan energi dan daya kejut bagi saraf-saraf sensitif berkaitan dengan penelitian sastra.

Dari sini, toh, semua bisa diusahakan dan diwujudkan.

Sudarmoko Mahasiswa di Department of Malay Language and Culture, Leiden University
sumber: Kompas, Minggu 24 Juli 2005, http://kompas.com/kompas%2Dcetak/0507/24/nasional/1909083.htm


Pages:12